Garuda Indonesia Berlaba Rp 148,07 M Kuartal Pertama

Setelah beberapa tahun terakhir berdarah-darah, kini PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) mampu meraih untung. Pada kuartal pertama 2015, GIAA mem

Garuda Indonesia Berlaba Rp 148,07 M Kuartal Pertama
Tribunnews.com
Ilustrasi: Pesawat Boeing 737-800 NG Garuda Indonesia

BANGKAPOS.COM, JAKARTA - Setelah beberapa tahun terakhir berdarah-darah, kini PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) mampu meraih untung. Pada kuartal pertama 2015, GIAA membukukan laba 11,39 juta dollar AS atau sekitar Rp 148,07 miliar (kurs Rp 13.000 per dollar AS). Pada periode yang sama tahun sebelumnya, GIAA merugi 168,04 juta dollar AS. Dengan ini, laba per sahamnya pun terkerek menjadi 0,00044 dollar AS.

Pendapatan GIAA meningkat 13,44 persen dari 817,41 juta dollar AS ke posisi 927,32 juta dollar AS. Kontribusi pendapatan dari penerbangan berjadwalnya yakni 805,48 juta dollar AS, penerbangan tak berjadwal US$ 39,2 juta, dan lainnya 82,64 juta dollar AS.

"Di kuartal pertama, Garuda meraih kenaikan trafik penumpang domestik 13 persen dan internasional 17 persen," kata Direktur Utama GIAA Arif Wibowo, dalam pesan singkatnya kepada Kontan, Minggu, (10/5/2015).

Ia menyebut bahwa meski pangsa pasarnya menipis, namun GIAA tetap bisa mencatat kenaikan jumlah penumpang. Menurutnya, pangsa pasar penumpang domestik GIAA turun sekitar 9 persen di kuartal satu lalu.

Sementara, beban yang GIAA tanggung sedikit meringan. Beban usahanya turun 6,54 persen dari 980,97 juta dollar AS ke posisi 916,73 juta dollar AS. Ini didorong oleh beban operasionalnya yang turun 11,03 persen dari 597,63 juta dollar AS ke posisi 531,71 juta dollar AS.

Lemahnya harga minyak dunia turut berperan berkurangnya beban tersebut. Dus, GIAA juga tengah menekankan efisiensi. Efisiensi yang dilakukan antara lain mengurangi isian kelas bisnis dari 12 menjadi 8 kursi.

Untuk menghindari turbulensi nilai tukar, GIAA juga melakukan cross currency swap. Pada 2 April lalu, GIAA melakukan cross currency swap sebesar Rp 1 triliun dengan PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BNII), PT Bank Mega Tbk (MEGA), Bank Standard Chartered, dan Bank ANZ.

Pada kuartal pertama kemarin, fluktuasi nilai tukar Rupiah ternyata membawa untung bagi maskapai ini. GIAA tercatat memperoleh laba selisih kurs 18,99 juta dollar AS. Sementara di kuartal pertama 2014, GIAA rugi kurs 34,31 juta dollar AS.

Lebih lanjut, GIAA akan menerbitkan global sukuk senilai 500 juta dollar AS. Sukuk global tersebut memberi kupon maksimal 6,9 persen per tahun dan tenor 5 tahun. Adapun, penerbitan sukuk itu dinilisi bisa meringankan covenance utang GIAA.

Pekan lalu, saham GIAA tutup di harga Rp 560 atau memerah 0,88 persen dibanding hari sebelumnya.

Editor: emil
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved