Opini: Semua Anak Memiliki Tambang Emas Kecerdasan

Masyarakat Babel biasa makan ikan segar yang kaya protein, yang memungkinkan putra-putri Babel berprestasi dalam

Opini: Semua Anak Memiliki Tambang Emas Kecerdasan
NET/NMHM, SILVER SPRING, MD
Ilustrasi 

Opini: Dr H Suud Karim A. Karhami, Pegawai Kemendikbud Jakarta, putra Babel kelahiran Tanjung Pandan

Masyarakat Babel biasa makan ikan segar yang kaya protein, yang memungkinkan putra-putri Babel berprestasi dalam bidang akademik. Sewaktu 'tidak belaok' paling tidak ada lauk ikan rinyok, ikan lampak, atau ikan ketipe'. Kehebatan putra Babel ini sudah ditunjukkan oleh putra Babel yang berprestasi di tingkat nasional seperti Prof Dr. Yusril Ihza Mahendra, M.Hk yang ahli hukum yang paling disegani di Indonesia, atau Andrea Hirata yang sastrawan kreatif, atau Antasari Anhar SH, MHk yang juga ahli hukum.

Sayang sekali, beberapa anak Babel yang belum berprestasi sering menganggap dirinya tidak berbakat. Anggapan ini sering menjerembabkan mereka sehingga putra-putri Babel benar-benar tidak berprestasi dan hanya memiliki kemampuan akademik rata-rata. Untuk melawan mitos ini, kita: guru, ortu, masyarakat, siswa harus melakukan perubahan pola pikir dengan pola pikir baru: 'semua anak Babel hebat dan bisa berprestasi'.

Di tingkat nasional, biasanya anak langsung memvonis dirinya tidak punya bakat matematika karena dia selalu memperoleh nilai rendah pada setiap kali ulangan matematika. Yang menarik adalah, orang tua dan guru sering 'mengamini' anggapan anak ini. Akhirnya, anak tidak merasa PD (percaya diri) setiap kali mengerjakan soal Matematika. Akibatnya lagi, anak tidak pernah mencapai tingkat ketuntasan masikmal ketika mengikuti pelajaran matematika.

Begitu juga dengan pelajaran lain, misalnya, ada anak yang beranggapan, 'aku tidak punya bakat menulis', 'Aku tidak bakat Bahasa Inggeris', 'sejarah merupakan pelajaran memuakkan', 'bahasa hanya cocok dipelajari oleh wanita'. Anggapan dan pandangan negatif seperti ini akan mempengaruhi hasil belajar siswa. Ketika mereka menganggap (baca: meyakini} mata pelajaran tertentu sulit, mereka akan benar-benar menemui kesulitan itu dalam setiap kali mengikuti KBM mata pelajaran itu.

Bencana itu datang ketika siswa 'meyakini', dia bodoh dan tidak punya bakat untuk mata pelajaran tertentu. Ketika keyakinan ini terjadi, anak menjadi ahli hipnotis, yang menyebabkan dirinya benar-benar jadi tampak bodoh.

Di sisi lain, para ahli psikologi dan pendidikan sepakat bahwa setiap anak memiliki tambang emas kecerdasan. Dan anak akan menjadi emas kalau disentuh dengan pikiran dan tindakan emas. Salah satu sentuhan emas adalah meningkatkan PD anak bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk mempelajari dan mendalami mata pelajaran itu.

Potensi siswa sebagai tambang emas

Pada dasarnya setiap anak memiliki beragam potensi sebagai tambang emas yang belum tergali. Anak memiliki kecerdasan intelektual. Mereka memiliki pikiran. Dengan pikirannya mereka bisa mengingat, meramal, bernalar, beragumentasi. Ini semua dikendalikan melalui otak. Ahli medis sepakat bahwa cara kerja computer mencontoh cara kerja otak. Namun begitu, struktur otak jauh-jauh lebih canggih dari struktur computer.

Otak anak bisa memproses apa saja kalau dilatih. Sayang sekali, tambang emas ini belum digali maksimal di sekolah dan di rumah. Selain itu, anak memiliki kecerdasan emosi, kecerdasan fisik,/ kinestetik, kecerdasan spiritual, kecerdasan bahasa, kecerdasan social. Tambang emas lain yang dimiliki setiap anak adalah sikap ingin tahu (curiosity) dan kemampuan berimajinasi (creativity). Newton menemukan teorinya karena terdorong sikap ingin tahunya yang begitu tinggi ketika mengamati apel jatuh.

Halaman
123
Tags
Opini
Anak
Editor: emil
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved