Kejayaan Lada Terulang

Semua Harta Saya dari Lada

"UNTUK bantu-bantu anak kuliah, bentuk investasi nantinya di saat memanen anak butuh uang banya

Semua Harta Saya dari Lada
IST/Dok Humas Setda Bangka
Ilustrasi: Bupati Bangka H Tarmizi Saat di kebun ladanya.

"UNTUK bantu-bantu anak kuliah, bentuk investasi nantinya di saat memanen anak butuh uang banyak untuk menyelesaikan pendidikannya, itu yang jadi tekad saya untuk tidak berputus asa," kata Askan (55), petani Lada di Kabupaten Bangka Selatan, pada pekan lalu. Meski tak seperti dulu, Askan yakin Lada masih bisa menghidupi keluarganya. Suami Zubaidah (53) itu sudah berkebun Lada sejak tahun 1980 lalu.

Askan adalah seorang petani Lada yang mengenyam 'manisnya' tanaman itu pada puluhan tahun silam. Dari Lada, dia mampu membangun rumah yang kini menjadi tempatnya berteduh. Rumah di Jalan Teladan, Toboali, itu menghabiskan dana sebesar Rp 20 juta.

Awalnya, Askan mengaku hanya bermodal nekat dan tenaga untuk berkebun Lada. Dia membuka lahan seluas seperempat hektare di wilayah Tuik, Desa Rias, Toboali. Lahan itu ditanami 600 batang lada. Askan memutuskan berkebun Lada setelah berhenti bekerja di sebuah pabrik batu bata.

Askan harus merelakan sepeda balap yang diberikan adiknya agar bisa membeli bibit Lada. Sepeda balap yang dijual seharga Rp 50 ribu melengkapi upayanya mendapatkan bibit Lada. Uang hasil penjualan sepeda digunakan untuk membayar upah sewa mobil pengangkut junjung lada.

Jerih payah Askan membuahkan hasil setelah menunggu selama tiga tahun. Pria empat cucu ini mendapat 500 kilogram Lada dari panen pertamanya. Hasil itu dijual seharga Rp 600 per kilogram. Askan membeli sepetak tanah yang lalu menjadi lahan mendirikan rumahnya saat ini.

Tidak hanya itu, uang hasil panen pertama juga dibelikan bibit Lada. Sebanyak 1.200 batang Lada ditanam Askan di kebunnya. Dari bibit kedua ini, Askan berhasil mendapat satu ton Lada siap jual. Pundi-pundi keuangan Askan pun bertambah.

Kebakaran hutan

Perjalanan Askan berkebun Lada tak selamanya mulus. Ketika akan memanen untuk kedua kalinya, dia ditimpa musibah. Kebakaran hutan menghanguskan kebun yang ditanami 1.200 batang Lada. Askan pun harus memulai dari nol lagi.

Pada tahun 1990, Askan kembali harus nekat. Dia menebang kawasan hutan di daerah Tambang Tujuh, Desa Keposang, Toboali untuk membuka kebun Lada. Meski takut ditangkap, Askan tetap menanam 2.000 batang Lada di lahan tersebut. Keinginan kuat untuk membuat sebuah rumah yang besar dan menyekolahkan anaknya hingga ke perguruan tinggi membuat Askan tetap berusaha berkebun Lada di lokasi itu.

Usaha Askan terbayar dengan hasil Lada siap jual sebanyak empat ton. Kala itu, Lada dijual seharga Rp 1.300 perkilo. Itupun untuk menjual hasil keringatnya bertahun-tahun, pengepul lada hanya mau menerima lada putih bersih, sehingga ia bersama istrinya harus mencuci lada hasil panennya dengan hati-hati agar laku terjual.

Halaman
123
Editor: emil
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved