Inilah Kisah Peraih IPK 3,99 yang Lahir dari Keluarga Buruh Tani

Devi Triasari (24) mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) yang meraih IPK 3,99 menjadi buah bibir di kampusnya.

Inilah Kisah Peraih IPK 3,99 yang Lahir dari Keluarga Buruh Tani
KOMPAS.COM/ M Wismabrata
Devi Triasari, Senin (1/6/2015). 

BANGKAPOS.COM, SOLO,  - Devi Triasari (24) mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) yang meraih nilai IPK 3,99 menjadi buah bibir di kampusnya. Meskipun berasal dari keluarga tidak mampu, Devi tidak kecil hati untuk meraih prestasi setinggi mungkin 

Gadis asal Ngawi yang akan dinobatkan menjadi lulusan terbaik pada acara wisuda bulan Juni tersebut pun berbagi cerita tentang kedua orangtua dan masa kecilnya.

Devi mengaku ingin membantu memperbaiki rumah mereka yang hampir rubuh karena dimakan usia. Masih lekat dalam ingatan Devi kecil, saat belum masuk bangku sekolah, harus ikut ibunya, Karinem, bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Madiun.

Devi pun turut menumpang dirumah majikan tersebut. Tidak hanya satu majikan, saat ibunya berganti majikan dan menumpang, Devi pun turut serta.

"Sebelum sekolah, saya diajak ibu numpang di rumah majikan, dan semuanya baik, pas sudah mau masuk sekolah, kadang diberi uang saku oleh majikannya," katanya, Senin (1/6/2015).

Meskipun harus menumpang, prestasi belajar Devi tidak terganggu. Selama SD, Devi selalu menjadi rangking satu di SDN Guyung 1, Ngawi. Bahkan saat kelulusan SD, dirinya mendapat NEM terbaik di sekolahnya. Devi yang tinggal di Dusun Guyung RT 4/ RW 2, Gerih, Ngawi, Jawa Timur, mengaku senang belajar.

"Sejak SD saya selalu ranking, kedua orangtua saya juga mendukung saya," katanya.

Beranjak SMP, Devi pun menceritakan bahwa setiap Sabtu dan Minggu membantu ibunya jualan sayuran. Saat itu, dirinya pun mendapat banyak wejangan dari ibundanya, salah satunya keinginan dirinya untuk melanjutkan sekolah hingga kuliah.

"Pesannya kalau memang sudah menjadi pilihan, ya berserahlah kepada Tuhan, dan berbuat baik kepada sesama," kata Devi.

Menurut Devi, pesan tersebut yang membekas di hatinya karena saat itu ibunya mendapat gunjingan dari tetangga agar dirinya sebagai perempuan tidak harus sekolah sampai tinggi.

Halaman
12
Editor: Hendra
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved