Nilai Tukar Rupiah Melorot

Nilai tukar rupiah semakin melorot terhadap dollar Amerika Serikat. Pada perdagangan Senin (8/6/2015),

Nilai Tukar Rupiah Melorot
SHUTTERSTOCK
Ilustrasi 

BANGKAPOS.COM, WASHINGTON - Nilai tukar rupiah semakin melorot terhadap dollar Amerika Serikat. Pada perdagangan Senin (8/6/2015), dari data di laman Bank Indonesia, menurut kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate, rupiah menyentuh level Rp 13.360 per dollar AS, atau turun 0,54 persen jika dibandingkan pada penutupan pekan lalu pada posisi Rp 13.288 per dollar AS.

Di pasar spot, rupiah berada di level Rp 13.366 per dollar AS atau turun 0,57 persen dari pekan lalu Rp 13.290. Di bank-bank komersial, kurs beli satu dollar AS sudah melewati Rp 13.500.

Pelemahan ini merupakan yang terdalam setelah krisis moneter tahun 1998. Ada berbagai penyebab melorotnya rupiah. Secara musiman, kurs rupiah cenderung merosot pada bulan Juni. Penyebabnya adalah kebutuhan pembayaran dollar AS yang cukup tinggi.

Pada bulan ini, ada utang negara yang jatuh tempo dan dibayar dengan dollar AS. Selain itu, pada bulan Juni terjadi repatriasi aset. Perusahaan membayarkan dividen hasil kerja tahun 2014 kepada para investor, termasuk investor yang ada di luar negeri.

Di sisi lain, indeks dollar AS semakin menguat setelah ada pengumuman data tenaga kerja AS yang positif. Indeks dollar AS naik 0,89 persen menjadi 96,30. Trian Fitria, analis dari BNI Treasury, memperkirakan, pada hari ini rupiah berpotensi bergerak dengan kecenderungan konsolidasi melemah.

"Faktor belum adanya sentimen positif dari dalam negeri serta masih kuatnya sentimen positif dari beberapa indikator ekonomi Amerika pada akhir minggu kemarin, antara lain angka nonfarm payrolls di level 280.000 jauh melebihi ekspektasi di 226.000. Hal itu semakin membatasi gerak rupiah untuk keluar dari tekanan dollar," katanya.

"Posisi cadangan devisa Indonesia akhir Mei 2015 tercatat 110,8 miliar dollar AS, sedikit lebih rendah dibandingkan dengan posisi akhir April 2015 sebesar 110,9 miliar dollar AS. Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh kenaikan kebutuhan devisa, antara lain untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah serta penggunaan devisa dalam rangka stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamentalnya. Meski demikian, penerimaan devisa dari penerbitan sukuk global pemerintah mampu menahan penurunan lebih lanjut," ujar Trian Fitria.

Dia menambahkan, dengan perkembangan tersebut, posisi cadangan devisa per akhir Mei 2015 masih cukup membiayai 7,1 bulan impor atau 6,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.

Impor Tiongkok

Hal serupa terjadi di pasar saham. Pada awal perdagangan terkoreksi dalam 0,66 persen atau 35.500 poin ke level 5.066,45.

Seluruh sektor melemah. Demikian pula dengan bursa-bursa di kawasan Asia. Indeks MSCI Asia Pacific melemah kurang 0,1 persen ke level 147,83. Pekan lalu, indeks ini mencatatkan penurunan 2,3 persen.

Pelemahan berlanjut setelah impor Tiongkok turun lebih dari perkiraan. Penurunan impor ini membuat para investor tetap khawatir tentang penurunan laju pertumbuhan ekonomi di negara besar itu. Penurunan pertumbuhan akan memaksa Beijing untuk melakukan langkah stimulus lanjutan.

Ekspor Tiongkok pada Mei lalu turun 2,5 persen dari satu tahun sebelumnya dalam perhitungan dollar AS. Posisi ini memang lebih baik daripada perkiraan para pelaku pasar. Sementara impor turun tajam 17,6 persen.

"Impor yang terus menurun memberikan gambaran bahwa faktor permintaan terus turun, juga konsumsi domestik," kata Chester Liaw, ekonom pada Forecast Pte Ltd di Singapura.

Editor: emil
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved