Produk Cat Bertimbal Ancam Kesehatan Anak-Anak Indonesia

Anak-anak Indonesia terancam mengalami keterbelakangan mental akibat cat. Survei yang dilakukan Bali Fokus pada tahun 2015

Produk Cat Bertimbal Ancam Kesehatan Anak-Anak Indonesia
Property Manager
Sekitar 83 persen cat yang beredar di Indonesia mengandung timbal lebih dari 90 ppm, mengancam anak-anak. 

BANGKAPOS.COM - Anak-anak Indonesia terancam mengalami keterbelakangan mental akibat cat. Survei yang dilakukan Bali Fokus pada tahun 2015 mengungkap bahwa sekitar 83 persen cat di Indonesia mengandung timbal lebih dari 90 bagian per juta (ppm).

"Timbal adalah logam berat yang beracun. Kalau digunakan dalam cat dan cat kemudian mengering atau luntur serta menyatu dengan debu, timbalnya bisa terhirup. Lima puluh persen akan diserap oleh tubuh anak-anak," kata Surya Anaya, Direktur Bali Fokus.

Bali Fokus meneliti total 121 cat kaleng dari 63 merek di Jakarta, Tangerang, Bogor, Depok, dan Denpasar. Kadar timbal dari sampel cat yang dibeli secara random tersebut dianalisis di laboratorium independen di Eropa.

Hasil penelitian memperoleh hasil yang mengejutkan. Sekitar 83 persen cat yang beredar di Indonesia memiliki kadar timbal lebih dari yang direkomendasikan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO), yaitu 90 ppm.

Sementara, sekitar 78 persen cat yang beredar memiliki kadar timbal lebih dari standar baru SNI 8011:2014, yaitu 600 ppm. Sebanyak 41 persen memiliki kandungan timbal lebih dari 10.000 ppm. Bahkan, ada cat yang kandungan timbalnya 102.000 ppm.

Sonia Buftheim, peneliti Bali Fokus, mengatakan bahwa tidak ada batas aman untuk timbal. Adanya timbal pada cat memang tidak bisa dihindari karena reaksi kimia selama pembuatan cat tersebut. Namun demikian, jumlah timbal pada cat seharusnya tidak besar.

"WHO menetapkan kandungan timbal maksimum 90 ppm karena tanpa penambahan untuk cat atau pengering, kadar timbal pada cat tidak lebih dari 90 ppm," jelas Sonia dalam konferensi pers pada Kamis (18/6/2015).

Adanya cat Indonesia yang memiliki kadar timbal antara 1.000 - 10.000 ppm menunjukkan bahwa masih ada produsen yang sengaja menambahkan timbal untuk pengering. Sementara, adanya cat dengan kadar timbal lebih 10.000 ppm mengindikasikan adanya penambahan timbal pada cat.

Jumlah anak-anak Indonesia mencapai 32,7 juta. Tanpa aturan tegas tentang produk cat yang pasti digunakan pada rumah, sekolah, hingga mainan, anak-anak Indonesia tersebut terancam mengalami masalah saraf dan mental akibat akumulasi timbal.

Sonia meminta masyarakat untuk menjadi konsumen yang cerdas dengan memperhatikan cat yang dibeli. Salah satu yang bisa dilakukan adalah melihat label "bebas timbal" atau "eco label" pada cat.

"Berdasarkan penelitian kami sejauh ini, yang memiliki label itu memang kadar timbalnya rendah," kata Sonia. Harga cat yang mahal serta merek yang terkenal dan banyak diiklankan tidak menjamin bebas timbal.

Sementara Surya mendorong pemerintah untuk membuat kebijakan terkait produk cat dan batasan jumlah timbal. "SNI selama ini ada tetapi tidak menggigit karena sifatnya hanya voluntary," ungkapnya.

SNI sendiri seharusnya bisa diperbaharui seperti standar WHO. Selain itu, perlu badan yang bertugas mengawasi cat dan produk lain yang beredar. "Selama ini tidak ada yang merasa bertanggung jawab untuk pengawasan produk itu," ujarnya.

Tags
Anak
WHO
Editor: Hendra
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved