Ketua MUI: Urusan Umat Beragama Bukan Bakar-bakaran

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bangka, Ustadz H Syaiful meminta masyarakat tidak terpancing kerusuhan antar umat di Polikara Papua.

Ketua MUI: Urusan Umat Beragama Bukan Bakar-bakaran
Bangkapos.com/dok
Ilustrasi: Ketua Baznas Kabupaten Bangka H Syaiful Zohri saat memberikan tausyiah, Senin (13/7/2015) ketika berbuka puasa bersama ratusan narapidana di Lembaga Permasyarakatan Bukit Semut Sungailiat. 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Fery Laskari

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bangka, Ustadz H Syaiful meminta masyarakat tidak terpancing kerusuhan antar umat di Polikara Papua. Begitu juga tokoh umat agama lainnya, menyerukan imbauan serupa, saat pertemuan di Mapolres Bangka, Jumat (24/7/2015).

"Umat beragama bukan urusannya bakar-membakar," tegas Syaiful, saat Rapat Koordinasi Kerukunan Umat Beragama Dalam Rangka Mewujudkan Situasi Kamtibmas. Yang Kondusif di Kabupaten Bangka. Rapat dihadiri oleh Bupati Bangka Tarmizi HS, Kapolres Bangka, Kepala Kejari Sungailiat Supardi, perwakilan TNI dan tokoh agama di daerah ini. "Dan saya pikir situasi di Bangka kondusif," kata Syaiful.

Pastur (Katolik), Koko menyerukan imbauaan serupa. Bahkan dia salut dngan keanekaragaman di Bangka yang harmonis. "Selama ini (di Bangka) kami tidak pernah mendapat gangguan. Misalnya kalau ada umat yang meninggal dibawa ke rumah. Kalau ada Misa juga ada beberapa kali dirumah, itu juga tidak pernah ada masalah. Sebagai orang Jogja saya menikmati suasana disini (Bangka)," katanya.

Keharmonisan umat beragama di Bangka dicontohkan Pastus Koko dengan beberapa pengalaman yang dia temui. "Belum lama ini saya menghadiri Pernikahan (Pesta Perkawinan) Umat Katolik. Yang mengharukan, saat magrib, itu organ tunggalnya (hiburan musik) berhenti. Ini penghormatan si tuan rumah (bagi Umat Muslim). Itulah kebersamaan di Bangka ini," katanya.

Pendeta Yahya YK, Wakil Ketua Badan Pengurus Gereja Gerja Kristen Bangka, yang juga merupakan Forum Kerukunan Antar Umat Beragama (Protestan) mengatakan hal senada.

"Saya merasakan betul-betul kondusisf di Bangka. Kita ada di masyarakat yang majemuk dan saling menghargai. Saling memahami satu sama lain. Selama 17 tahun saya di kabupaten ini, merasakan kondusif. Tokoh lintas agama bisa bekerja sama dengan baik," katanya.

Dia mengakui ada sebuah aliran yang tak sepaham dengan Protestan. Aliran itu menurutnya, patut diantisipasi oleh agama-agama yang ada di Indonesia. "Memang ada sebuah aliran di kabuparten ini yang kami sendiri tridak sepaham, aliran itu suka membagi-bagi buku," katanya.

Aliran yang dimaksud dikawatirkan dapat memicu konflik. Umat Protestan dan juga umat lainnya, diyakini Yahya tak akan sepaham dengan aliran ini sehingga harus diwaspadai. "Kami mohon masyarakat, jika menemukan ada hal hal yang menggangu kerukunan bersama (terkair aliran itu), tolong hubungi kami. Kami akan perhatikan itu," katanya.

Keluh-kesah dan sumbang saran juga diurtarakan oleh umat lainnya. Namun pada intinya, seluruh tokoh agama (FKUB) yang hadir di acara ini sepakat untuk tidak menjadikan insiden polikara terulang kembali. Mereka mengakhir pertemuan itu dengan menandatangani deklarasi damai di hadapan Forum Pimpinan Daerah,

Halaman
12
Penulis: ferylaskari
Editor: edwardi
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved