Lipsus Lada Bangka

Petani Lada Terpaksa Panen Lebih Cepat

Dia terpaksa memanen sebagian lada di kebunnya untuk menghindari gagal panen.

Petani Lada Terpaksa Panen Lebih Cepat
BANGKA POS/RESHA JUHARI
MENGERING - Sebagian tumbuhan Sahang atau Lada milik petani di Desa Terak, Kecamatan Simpang Katis, Kabupaten Bangka Tengah tampak terlihat mengering dan mati, Sabtu (1/8). Menurut petani, penyebab mengering dan matinya tanaman Lada disebabkan karena dua faktor yakni, mengering karena musim kemarau dan termakan oleh usia. 

- Kemarau Bikin Petani Kerja Lebih Keras

SIMPANGKATIS, BANGKA POS - "Daripada rugi," begitulah sepenggal kalimat yang dilontarkan Kandar (28), petani lada di Desa Beruas, Kecamatan Simpangkatis, Kabupaten Bangka Tengah, pada pekan lalu. Dia terpaksa memanen sebagian lada di kebunnya untuk menghindari gagal panen. Kemarau panjang membuat buah lada di kebunnya banyak jatuh sebelum masak.

"Seharusnya panen Sahang (lada) ini, bulan agustus, tetapi karena panas kemarau ini, daunnya cepat menguning, dan layu, jadi terpaksa kita panen lebih cepat, dan dibuat menjadi sahang hitam," ujarnya.

Normalnya, lada dipanen untuk dijadikan lada putih. Untuk kategori lada putih, Kandar menyebut harga jualnya cukup tinggi yaitu berkisar Rp 165 ribu hingga Rp 170 ribu per kilogram.

Sementara harga jual lada hitam lebih rendah dibanding lada putih. Selisih harganya cukup jauh yang mana lada hitam dihargai Rp 60 ribu hingga Rp 80 ribu per kilogram.

" Kami berharap kedepan pemerintah memiliki solusi, atau ada teknologi baru, untuk mengantisipasi saat musim kemarau seperti ini," ujarnya.

Saat ini bujangan itu memiliki 700 batang lada. Untuk menghindari dampak kemarau yang lebih parah, dai dan rekan seprofesinya harus merogoh kocek lebih dalam untuk mendapat air. Biaya dikeluarkan apabila sumber air cukup jauh dari kebunnya.

"Biasanya kita mengambil air di kolong eks tambang atau di sungai, maupun sumur galian. Kalau jaraknya jauh, kita mengeluarkan biaya operasional untuk mengunakan mesin robin, dan harus menyediakan pipa atau slang, untuk menyirami tanaman lada. Biasanya kita menyiraminya, waktu pagi, pagi sekali, atau pada sore hari," katanya.

Senada disampaikan Syahrudin (25), petani lada asal Desa Perlang, Kabupaten Bangka Tengah. Di saat kemarau seperti sekarang ini, dia menyebut pemenuhan kebutuhan air untuk tanaman lada menjadi sangat penting. Apalagi lada membutuhkan air yang cukup banyak.

"Apalagi saat ini sedang mau berbuah," ujar Syahrudin

Halaman
12
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help