Diskusi Redaksi Bangka Pos

Fenomena Pangkalpinang Kota Termahal,Ikan Mahal di Lumbung Ikan

''Selain itu, ternyata pemain atau pedagang ikan di Babel ini bersifat oligopoli (hanya dikuasai oleh beberapa orang saja)."

Fenomena Pangkalpinang Kota Termahal,Ikan Mahal di Lumbung Ikan
Bangka Pos/ Teddy Malaka
DISKUSI - Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Bangka Belitung, Bayu Martanto didampingi Deputi Edhi Rahmanto Hidayat berdiskusi di kantor Bangka Pos, Senin (24/8/2015) 

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bangka Belitung Bayu Martanto didampingi Deputi Edhi Rahmanto Hidayat menyempatkan diri menghadiri diskusi perdana Redaksi Bangka Pos di kantor harian ini, Senin (24/8) siang.

DALAM diskusi yang berlangsung cair dan hangat ini, Vice Editor In Chief Bangka Pos Group Tariden Turnip, dan General Bussiness Bangka Pos Group Daryono, menyinggung kondisi terkini ekonomi di Bangka Belitung. Termasuk masalah inflasi yang menjadikan Kota Pangkalpinang sebagai daerah yang mengalami lonjakan tertinggi harga-harga di Indonesia pada periode Juli.

Bayu memaparkan satu penyumbang inflasi Pangkalpinang adalah lonjakan harga ikan.

"Daerah ini kepulauan, ibaratnya lumbung ikan tetapi inflasi karena ikan. Pangkalpinang kota inflasi tertinggi, di bulan Juli," kata Bayu membuka pembicaraan.

Ia mengatakan berdasarkan kajian yang dilakukan BI, pemicu lonjakan harga ikan ternyata akibat penerapan retribusi ikan bila dibawa ke kabupaten atau kota di Babel. Misalnya, saat ikan dari Bangka dibawa ke Kota Pangkalpinang, maka akan dipungut retribusi 5 persen. Sehingga harga ikan di Pangkalpinang akan jauh lebih mahal.

''Selain itu, ternyata pemain atau pedagang ikan di Babel ini bersifat oligopoli (hanya dikuasai oleh beberapa orang saja, sehingga mudah mengontrol harga),'' katanya.

Ia mengakui lonjakan harga ikan juga merupakan penyumbang inflasi pada Belitung, yang menjadi daerah termahal di Indonesia pada 2014.

''Selain itu juga 70 persen barang-barang di pasar berasal dari luar Bangka Belitung, ketika cuaca buruk, distribusi terganggu."

''Tambahan lagi Babel masih kekurangan cold store. Kalaupun ada hanya milik swasta. Nah alasannya juga masalah ketersediaan energi listrik.''

Di sisi lain, kata Bayu, melemahnya bisnis timah juga berdampak pada ekonomi Bangka Belitung. Menurutnya masyarakat yang sebelumnya boros saat bisnis timah bergairah, mulai berkurang.

Ia mengatakan pemerintah daerah bersama BI harus memikirkan cara mengatasi masalah. "Saya sering ditelpon bupati, mereka ternyata ingin mengetahui. Ini bagus, karena penting sekali untuk mereka menyadari inflasi harus diatasi."

Bayu mengatakan sebagai bank sentral, BI juga menyediakan data data yang dibutuhkan pemerintah daerah untuk mengambil keputusan. "Kami juga terbuka kepada media, terutama untuk menyampaikan Kajian Ekonomi Regional yang kami lakukan.

Dalam diskusi yang dilanjutkan dengan makan siang bersama ini, terlontar bahwa masyarakat umum banyak yang tak mengerti tentang masalah ekonomi makro seperti inflasi. Bahkan banyak pejabat yang tak mengerti, dan mengetahui pengendalian inflasi.

"Malah ada pejabat yang ngucapin inflasi, jadi imflasi. Menyebutnya saja salah," kata Tariden disambut canda tawa peserta diskusi.

Redaksi Bangka Pos Group menggelar diskusi regular membahas masalah terkini di Bangka Belitung. Peserta dan narasumber yang berminat silakan hubungi Sekretariat Redaksi di nomor 082175097795.

Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved