Rupiah Terus Melemah, 1.185 Tenaga Kerja di Jateng Terancam PHK

Nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat hingga saat ini masih melemah. Secara langsung maupun tidak

Rupiah Terus Melemah, 1.185 Tenaga Kerja di Jateng Terancam PHK
TRIBUNNEWS/DANY PERMANA
Ribuan buruh merayakan hari buruh internasional atau yang lebih dikenal dengan May Day dengan melakukan long march dari Bunderan Hotel Indonesia menuju Istana Negara, Jakarta, Jumat (1/5/2015). Tuntutan utama mereka yaitu peningkatan kesejahteraan dan penghapusan sistem kerja alih daya. 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Deni Setiawan

BANGKAPOS.COM, UNGARAN - Nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat hingga saat ini masih melemah. Secara langsung maupun tidak, itu berdampak pada kesehatan perusahaan.

Mereka mau tidak mau harus merumahkan sebagian tenaga kerjanya agar perusahaan bisa bertahap dan berproduksi.

"Yang cukup menohok ketika belum stabilnya perekonomian di Indonesia, terutama di Jawa Tengah di antaranya perusahaan di sektor garmen, tekstil, plastik, hingga yang memiliki banyak tenaga outsourching," kata Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Jateng Wika Bintang kepada Tribun Jateng, Minggu (13/9/2015).

Dia memprediksi, ketika situasi semakin sulit itu, ada sekitar 1.185 tenaga kerja lagi yang terancam terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) di Jawa Tengah.

Itu sudah dilihat dari data dan laporan sejumlah perusahaan, yang berkonsultasi hingga menyampaikan berbagai persoalan yang sedang dihadapi.

"Yang sudah nyata terkena PHK saat ini sekitar 1.305 tenaga kerja. Itu di periode Februari hingga Agustus 2015. Itu baru yang perusahaan-perusahaan menengah ke atas. Jika kondisi ekonomi masih seperti ini, kami prediksi bakal ada sekitar 1.185 tenaga kerja yang terancam PHK," ungkapnya.

Wika tak bisa menampik alasan-alasan pemilik atau pengelola perusahaan tertentu yang terpaksa memilih jalur PHK. Alasan utama dan mayoritas terjadi adalah efisiensi operasional produksi.

Harga bahan baku semakin mahal, ekonomi belum menguntungkan, harus tetap produksi atau bertahan, siasatnya adalah efisiensi tenaga kerja.

"Jika tidak dilakukan seperti itu, perusahaan terancam gulung tikar. Sama seperti sejumlah perusahaan karena tidak kuat lagi bertahan, terpaksa menutup usahanya. Mayoritas yang terjadi hingga gulung tikar adalah perusahaan di kelas menengah ke bawah," ujarnya.(*)

Editor: Hendra
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved