Kelekak Sebuah Kearifan Lokal Masyarakat Melayu Tempo Dulu

KELEKAK adalah sebidang tanah yang ditanami secara sengaja atau tidak sengaja oleh orangtua zaman dahulu

Kelekak Sebuah Kearifan Lokal Masyarakat Melayu Tempo Dulu
bangkapos.com/dok
Ilustrasi: Warga sedang mengambil air bersih di sumur umum ?Air Mungkus Kelekak Candu diwilayah Padang Lalang, Jumat (4/9). 

Oleh: Ichsan Mokoginta Dasin

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- KELEKAK adalah sebidang tanah yang ditanami secara sengaja atau tidak sengaja oleh orangtua zaman dahulu dengan beragam pohon penghasil buah (tumbuhan khas daerah), baik yang dimiliki secara pribadi (garis keturunan tertentu), maupun dimiliki secara bersama (milik orang banyak dalam satu kampung atau gabungan dari beberapa kampung).

Pemberian nama kelekak milik pribadi atau yang dimiliki oleh garis keturunan tertentu, biasanya selalu disertai dengan nama si pembuat/pemilik awal kelekak. Misalnya Kelekak Atok Umar, Kelekak Akek Raong, Kelekak Nek Binyit, dan lain-lain sebagainya.

Sedangkan kelekak milik bersama (milik orang banyak dalam satu kampung atau gabungan dari beberapa kampung) ini sering disebut sesuai nama dimana wilayah kelekak itu berada.

Misalnya Kelekak Lukok, Kelekak Pangkak, Kelekak Titi Puak (Tipuak) dan sebagainya. Kelekak milik orang banyak (yang kepemilikannya tidak dibatasi oleh keturunan tertentu) ini, juga dikenal dengan sebutan Kelekak Wakaf.

Selain definisi di atas, masyarakat Melayu di suatu wilayah, juga menggunakan istilah kelekak untuk menyebut areal atau tempat pemakaman umum (TPU)orang-orang Melayu atau muslim di wilayah setempat.

Seperti lazim digunakan oleh masyarakat desa dalam wilayah Kecamatan Mendobarat Kabupaten Bangka. Tidak diketahui persis alasan mengapa orang-orang di Kecamatan Mendobarat menyebut kawasan pemakaman umum dengan sebutan kelekak atau kelekak kubur.

Namun patut diduga, penggunaan istilah kelekak untuk menyebut tempat pemakaman umum orang-orang Melayu mengingat di atas areal pemakaman tersebut dahulunya banyak ditemui pohon penghasil buah seperti durian, binjai, cempedak, rambai dan sebagainya, yang pemanfaatannya juga berlaku hukum wakaf.

Mengapa harus ditanami pohon penghasil buah? Karena kelak, pohon yang ditanam itu dapat dinikmati (dipetik buahnya) oleh anak cucu mereka atau masyarakat umum di masa yang akan datang. Oleh sebab itu pula, kelekak sering dikonotasikan dengan sebutan--meminjam istilah yang dipopulerkan budayawan Suhaimi Sulaiman--yakni 'kelak kek ikak' (suatu saat nanti bermanfaat atau dapat diambil manfaatnya oleh kamu-kamu generasi yang akan datang).

Dalam konteks ini, maka si penanam pohon (pembuat kelekak) amat jarang bahkan tidak berkesempatan menikmati hasil dari apa yang telah mereka tanam, mengingat pohon yang mereka tanam tersebut baru akan berbuah puluhan tahun mendatang. Inilah salah satu konsep 'kesalehan' sosial para leluhur terdahulu, menanam untuk masa depan, demi kepentingan dan kemaslahatan orang banyak. Bukan menanam untuk kepentingan pribadi yang memiliki tujuan singkat atau sesaat.

Halaman
123
Penulis: emil
Editor: edwardi
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved