Jangan Biarkan Anak Anda Berduaan Dengan Yang Bukan Muhrim

Terkuaknya perkara persetubuhan anak dibawah umur yang dilakukan tersangka Endarwan (50) ikut disikapi Majelis Ulama Indonesia (MUI)

Jangan Biarkan Anak Anda Berduaan Dengan Yang Bukan Muhrim
Net
Ilustrasi 

TANJUNGPANDAN, BN - Terkuaknya perkara persetubuhan anak dibawah umur yang dilakukan tersangka Endarwan (50) ikut disikapi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Belitung.

MUI meminta setiap orangtua tidak membiarkan anak-anaknya berdua dengan bukan mukhrim dengan alasan apapun. Ketua MUI Kabupaten Belitung Anwar Daeng Materu mengatakan, peristiwa persetubuhan antara tersangka dengan korbannya karena adanya kesempatan tersangka hanya berdua dengan korban. Meskipun bertujuan pengobatan, orangtua semestinya tetap melakukan pendampingan.

"Laki-laki dan perempuan berdua itu dilarang dalam Islam, jangan kau dekati zina. Karena yang ketiganya itu setan. Kalaupun pengobatan harus tetap didampingi," ujar Anwar saat ditemui Harian ini di kediamannya, Rabu (28/10) kemarin.

Anwar DM menilai orangtua dan masyarakat umum juga harus memilih pengobatan-pengobatan alternatif sesuai dengan syariat Islam. Hal tersebut juga bisa mengurangi risiko peristiwa serupa terulang.

"Kalau berobatnya dia sesuai syariat Islam boleh-boleh saja, kalau menyimpang dari syariat Islam dilarang oleh agama. Karena nanti arahnya sirik," jelas Anwar DM.

Terkait surat keterangan nikah yang menjadi barang bukti dalam perkara tersebut, Anwar DM menjelaskan yang berhak mengeluarkan surat nikah hanyalah Kantor Urusan Agama (KUA). Surat tersebut diakui secara hukum dan dapat dipertanggungjawabkan.

Meskipun legalitas hukum pernikahan ditunjukkan melalui surat nikah, namun pernikahan dibawah tangan yang sesuai syariat Islam juga diakui sah secara agama.

Walaupun secara undang-undang pihak perempuan masih dibawah umur.

Anwar DM memaparkan, dalam Islam kedewasaan seorang wanita ditengarai dengan menstruasi atau haid. Seorang wanita dikatakan dewasa dan boleh dinikahi setelah mengalami menstruasi.

"Dibawah umur itu ketentuan undang-undang, undang-undang bilang dia harus 18 tahun. Sebenarnya kalau dia sudah menstruasi dia sudah bisa. Kalau agama ukurannya menstruasi," papar Anwar DM.

Dalam perkara yang menyeret Endarwan alias Pakde ini, lanjut Anwar DM, wali nikah perempuan dalam surat keterangan nikah adalah ayah tiri.

Menurutnya, pernikahan tersebut tidak sesuai ajaran agama, karena yang berhak menjadi wali nikah pihak perempuan adalah ayah kandung, kakak laki-laki maupun orang yang mempunyai urutan kewalian pihak perempuan.

"Wali perempuan harus orangtuanya, kalau tidak ada abangnya yang laki-laki. Kalau nggak ada pokoknya harus ada urutan kewalian itu. Bapak tiri tidak termasuk," tandas Anwar DM. (cla)

Penulis: aladhi
Editor: Hendra
Sumber: babel news
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help