Hanya Masyarakat Adat Yang Bisa Menjadi Penjaga Hutan Terbaik

Tarik Nafas Panjang, Apakah Anda Mendengar Bumi Menangis,” demikian ungkapan penutup Sekjen Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN)

Hanya Masyarakat Adat Yang Bisa Menjadi Penjaga Hutan Terbaik
Kompas.com/Firmansyah
Lokasi COP 21, Le Bourget, Paris, Prancis 

Laporan Kontributor Kompas.com Firmansyah dari Paris, Perancis

BANGKAPOS.COM, PARIS,  – “Tarik Nafas Panjang, Apakah Anda Mendengar Bumi Menangis,” demikian ungkapan penutup Sekjen Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Abdon Nababan dalam acara pleno penutupan Global Landscapes Forum di Paris, Palais du Congres, Minggu (6/12/2015).

Sebelumnya Abdon Nababan menyerukan agar para negosiator Indonesia di COP 21, Paris, Prancis mengindahkan pengetahuan yang mengungkapkan masyarakat adat sebagai penjaga hutan terbaik.

Ia mengingatkan bahwa kebakaran di Indonesia hanya dapat dihentikan dalam jangka panjang jika masyarakat adat diberikan hak atas wilayah adatnya termasuk hutan dan lahan gambut.

"Dunia tidak pernah tahu secara pasti bagaimana peran masyarakat adat dalam melestarikan hutan yang mewakili salah satu solusi untuk perubahan iklim yang ada," kata Abdon Nababan, di hadapan ratusan perwakilan dari negara dunia, swasta, dan lainnya.

Dalam sebuah pembicaraan yang berapi-api di depan ratusan peserta pada acara di Palais du Congres, Abdon meminta negosiator pada konferensi perubahan iklim PBB di Paris untuk mempertimbangkan kembali keputusan yang menghapus teks utama dari perjanjian tentang penyebutan hak asasi manusia.

"Dalam kesempatan ini saya tegaskan bahwa teks utama perjanjian Paris sepenuhnya menggabungkan hak asasi manusia, terutama masyarakat adat, sebagai strategi operasional untuk memerangi perubahan iklim," kata Nababan.

"Anda tidak bisa melindungi hutan dari Paris, Oslo atau New York. Hanya orang-orang yang telah melindungi hutan dapat terus melakukannya, mereka adalah masyarakat adat," lanjut dia.

Di seluruh dunia, menurut penelitian dipresentasikan pada Global Landscape Forum, 20 persen karbon di hutan tropis adalah di wilayah adat.

Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa hak-hak masyarakat terhadap hutan yang diakui secara hukum dan dilindungi oleh pemerintah sering diterjemahkan ke dalam hutan yang sehat dengan penyimpanan karbon yang tinggi, dan mengurangi deforestasi.

Halaman
12
Editor: Hendra
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved