Jebolan Kopaska Mengabdi Jadi Relawan

Instruktur Selam jebolan pendidikan Komando Pasukan Katak (Kopaska) tahun 2008 itu memutuskan hidup sebagai relawan SAR sejak berusia 17 tahun.

Jebolan Kopaska Mengabdi Jadi Relawan
Pos Belitung/Disa Aryandi
Agustinus Tolex, instruktur selam di Belitung.

MENOLONG, membantu, mengabdi adalah bukan hal baru bagi Agustinus Tolex. Instruktur Selam jebolan pendidikan Komando Pasukan Katak (Kopaska) tahun 2008 itu memutuskan hidup sebagai relawan search and rescue (SAR) sejak berusia 17 tahun.

Bapak dua anak ini telah banyak memakan asam garam di bidang SAR khususnya bawah air. Apa yang didapat lelaki kelahiran Tanjungpandan, 6 oktober 1972 itu? Hanya sebuah kebanggaan di lingkungan keluarga dan kepuasan jiwa.

Namun profesi itu selalu dikerjakan dengan tanpa beban oleh pemegang sertifikat selam One Star Instruktur nomor reg 0222-B1 Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (POSSI) ini.

Aktivitas Ketua Corona Diving Club Belitung sebagai relawan ini dimulai sejak tahun 1987. Kala itu, warga Jalan Sijuk, Dusun Kelapa Kerak, Desa Air Merbau ini menyaksikan langsung peristiwa kebakaran Toko Himalaya, di Jalan Gegedek, Tanjungpandan.

Tanpa takut Agustinus menerobos kobaran api dan menyelamatkan dua orang yang terjebak api di dalam rumah, satu korban anak-anak. Agustinus saat itu mendapati dua orang korban tersebut di pojok tangga, menuju lantai kedua.

"Habis dari itu, semacam panggilan jiwa itu terus muncul. Tidak ada apa-apa sih, cuma ingin membantu saja dan kebutulan saya punya keahlian. Keahlian itu saya bersama teman-teman pergunakan untuk kebaikan," kata Agustinus saat berbincang-bincang di kediamannya, Sabtu (19/12/2015) sore.

Di dunia selam, lelaki yang juga hobi berburu ini memulai karirnya sejak tahun 1995 lalu. Ia bergabung di organisasi selam Corona Diving Club Jakarta. Melalui keahliannya tersebut, Agustinus terus terlibat dalam kegiatan evakuasi dan pencarian korban dalam suatu bencana.

"Prinsip saya, relawan itu adalah panggilan jiwa. Ya senang saja seperti ini, ada kepuasan hati bisa membantu sesama. Karena kita hidup ini istilahnya pasti membutuhkan bantuan orang, kasarnya ya seperti itu. Tapi bantuan jangan disalah artikan, ini bantuan yang lebih spesifik," katanya.

Selama pengalamannya di dunia selam, Agustinus pernah melakukan penyelaman kedalaman 54 meter. Setiap melakukan penyelaman, ia tidak memungkiri selalu memiliki rasa takut. Lantaran kegiatan ini mempertaruhkan nyawa.

"Tapi itu semua harus diperhitungkan, dengan kesiapan. Misalkan kondisi fisik bagaimana. Sebelum turun ke laut harus membaca situasi lapangan. Kondisi di dalam laut memungkinkan atau tidak, tempatnya berbahaya atau tidak. Itu harus dipertimbangkan," katanya. (n3)

Penulis: Disa Aryandi
Editor: didit
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved