Inilah Alasan Warga Pesisir Belinyu Pro Kapal Isap

Bukan tanpa alasan mereka memilih bersikap mendukung, karena mereka merasa diuntungkan.

Inilah Alasan Warga Pesisir Belinyu Pro Kapal Isap
bangkapos.com/Iwan S
Gubernur Babel meninjau aktifitas kapal isap yang sedang berlabuh di dalam Teluk Kelabat dari dermaga Batu dinding, Rabu (30/12). 

BANGKAPOS.COM, BANGKA --  Pro kontra aktivitas Kapal Isap Produksi (KIP) membuat masyarakat pesisir membuat masyarakat kampungnya mudah terprovoksi. Badrun Helmi dan dua temanya sesama nelayanbelinyu ingin mengungkapkan alasan warga mendukung beroperasinya KIP.

Tiga nelayan ini dari kubu pro adanya KIP di perairan Teluk Kelabat. Bukan tanpa alasan mereka memilih bersikap mendukung, karena mereka merasa diuntungkan.

“Kami ingin bicara mengapa kami mendukung.Saat musim paceklik, angin kencang kami tak melaut tetapi kami dapatkan kompensasi dari adanya Kapal Isap,” kata Badrun Helmi, seorang nelayan Bagan Tancap Belinyu ketika berbincang di kedai kopi di Pangkalpinang, Minggu (3/12/2015).

Ia berharap sekali kompensasi dari Kapal Isap mitra PT Timah Tbk bisa dipertahankan. “Kami beharap sekali masyarakat yang kontra itu dapat mengerti, mengapa kami setuju,” katanya.

Ada sekitar 400 kepala keluarga yang mendapatkan dampak ekonomi secara langsung dari adanya Kapal Isap. Kompensasi itu berupa uang yang dibagikan sebagai bentuk bagi hasil.

“Kami yang terdampak mendapatkan Rp.1,3 juta per bulan. Itu tergantung hasil kapal isap itu juga,” kata Buyun.

Selain kompensasi, berbagai bantuan diberikan. Mulai dari program CSR (Corporate Social Responsibility), bantuan mesin kepada nelayan, bahkan ada beberapa warga yang diajak bekerja di KIP.

Menurutnya hampir semua masyarakat pesisir di Tanjung Gudang, Kampung Kapitan dan Romodong yang mendapat kompensasi itu.

“Dengan kondisi ekonomi seperti sekarang ini, kami sangat terbantu. Ada rezeki tambahan untuk keluarga kami,” kata Buyun.

Sementara itu Samsul U yang hampir separuh umurnya menjadi nelayan pancing di perairan Bangka Utara mengatakan kegiatan penambangan telah berlangsung sejak tahu 1970.

“Kami heranya mengapa menolaknya baru sekarang. Lagi pula yang menolak itu justru dari luar masyarakat pesisir, bahkan ada yang juga penambang di daratan. Paling ada beberapa orang yang dari warga kami,” kata Samsul.

Ia mengatakan dengan kondisi saat ini membuat situasi rentan terprovokasi. Padahal masyarakat sebagian besar telah mengerti.

“Teluk Kelabat ini sudah ditambang sejak lama. Di Teluk Kelabat sebelah Bangka Barat kapal isap itu beroperasi, kami tak mendapat apapun. Namun kali ini kebetulan daerah kita yang terdampak, mereka dari KIP ingin memberikan kompensasi,” katanya.

Mereka menyadari dampak dari penambangan adalah kerusakan.

“Yang namanya menambang pastilah ada kerusakan, tetapi kami rasa cukup sebanding dengan kompensasi yang kami terima,” katanya.

Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help