Mengapa Junk Food Merusak Kesehatan?

Konsumsi junk food atau makanan yang tidak sehat sering bisa berdampak buruk bagi tubuh.

Mengapa Junk Food Merusak Kesehatan?
net
Ilustrasi 

BANGKAPOS.COM - Konsumsi junk food atau makanan yang tidak sehat sering bisa berdampak buruk bagi tubuh. Apa sebabnya?

Peneliti ternyata menemukan molekuler bakteri yang bisa merusak tubuh di dalam junk food. Molekul yang sama juga ditemukan dalam makanan olahan, seperti daging cincang, saus pasta, dan sandwich.

Molekul itu disebut pathogen-associated molecular patterns (PAMPs). PAMPs inilah yang meningkatkan risiko penyakit jantung dan diabetes tipe 2.

Peneliti utama Dr Clett Erridge dari Universitas Leicester mengatakan, ia dan timnya telah menemukan mekanisme junk food meningkatkan risiko penyakit.

PAMPs itu tumbuh selama makanan diproses. Sementara itu, pada makanan segar tidak ditemukan PAMPs atau jumlahnya lebih sedikit.

Peneliti membandingkan tingkat PAMPs pada daging potong dan daging giling. Ternyata, tingkat PAMPs lebih tinggi terdapat pada daging giling. PAMPs diduga dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh.

Menurut peneliti, jika mengurangi junk food, dapat menurunkan 15 persen risiko diabetes tipe 2.

Dr Erridge dan timnya pernah menguji responden yang melakukan diet rendah PAMPs selama satu minggu. Hasilnya, diet rendah PAMPs memberikan efek yang sangat menguntungkan bagi kesehatan.

Jumlah sel darah putih mereka menjadi normal atau berkurang. Sebab, jika jumlah sel darah putih tinggi, maka menunjukkan risiko infeksi, stres, peradangan, alergi, dan penyakit tertentu.

Kadar Kolesterol pun menurun sebanyak 18 persen setelah melakukan diet PAMPs atau mengurangi konsumsi junk food. Pada akhirnya, sukses juga menurunkan berat badan.

Untuk itu, peneliti menyarankan untuk mengurangi konsumsi makanan siap saji yang rendah gizi.

Jika mengurangi konsumsi junk food, maka dapat menurunkan risiko penyakit jantung koroner lebih dari 40 persen. Peneliti saat ini mencari cara untuk menghilangkan PAMPs agar makanan menjadi lebih sehat.

Editor: fitriadi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help