Ketua PKK Berharap Ada 1 Desa di Bangka Jadi Percontohan Batik

Saya mengharapkan setidak-tidaknya ada 1 desa sebagai pilot project batik di Kabupaten Bangka sepulang dari peserta pelatihan

Ketua PKK Berharap Ada 1 Desa di Bangka Jadi Percontohan Batik
IST
Mina Tarmizi Antusias Menuliskan Pola Batik di Kain Katun 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Edwardi

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Ketua Umum (Ketum) TP-PKK Kabupaten Bangka sekaligus Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (BPM-Pemdes) Hj Mina Tarmizi mengharapkan setidak-tidaknya ada 1 desa yang akan menjadi pilot project batik di Kabupaten Bangka, usai mengikuti pelatihan kerajinan batik.

Hal tersebut diungkapkannya ketika mengantarkan TP-PKK Desa se-Kabupaten Bangka peserta pelatihan kerajinan batik tulis ke kampong batik desa Giriloyo-Imogiri Bantul Yogyakarta, Rabu (20/04).

“ Saya mengharapkan setidak-tidaknya ada 1 desa sebagai pilot project batik di Kabupaten Bangka sepulang dari peserta pelatihan kerajinan batik tulis ini,” katanya.

Dikatakannya, selain sebagai suatu kerajinan tangan yang memiliki prospek ekonomis yang tinggi, yang dapat dikembangkan, pengembangan kerajinan batik motif daerah juga merupakan pelestarian budaya daerah.

“Marilah kita manfaatkan peluang yang besar ini, untuk kesejahteraan masyarakat terutama di Kabupaten Bangka,” ungkapnya.

Diharapkannya, kepada seluruh peserta dapat mengikuti kegiatan pelatihan dengan baik, agar semua ilmu terkait batik tulis dapat diserap dengan sepenuhnya dan dapat dikembangkan di Kabupaten Bangka.

“ Kegiatan ini bukan merupakan akhir, tetapi merupakan awal dari pertemuan-pertemuan yang akan datang,” ujarnya.

Dikesempatan ini, beliau juga menyinggung peserta pelatihan jika membeli bahan dan perlengkapan membatik agar memilih yang bagus, ketika hendak pulang kembali ke Bangka.

Sementara itu, Rozie selaku owner (pemilik) Fajar Batik salah satu sentra kerajinan batik tulis di kampong batik desa Giriloyo-Imogiri Bantul Yogyakarta dalam sambutannya mengatakan industry rumahan batik di kampungnya ini, telah ada sejak abad 18 yang lalu, sejak raja-raja dan keluarga raja dari Kesultanan Mataram dimakamkan di Imogiri, Bantul, DI Yogyakarta pada abad 18 yang lalu.

Timbal baliknya Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat mengangkat warga setempat laki-laki dan perempuan sebagai abdi dalemnya.Kraton yang identik dengan batiknya, mengajarkan cara pembuatan batik kepada abdi dalem perempuan.

“ Abdi dalem perempuan inilah, dahulu yang kadang pulang ke kampong (Imogiri-red) mengajarkan ilmu membatik ini, Alhamdulillah sampai sekarang menjadi turun temurun,” katanya.

Dijelaskannya, di kampong batik sekarang, tercatat sebanyak kurang lebih 1000 orang pembuat batik.

“ Kurang lebih 800 KK (Kepala keluarga) yang ada, masing-masing KK, 3 dari 5 anggotanya rata-rata bisa membatik,” jelasnya.

Ditambahkannya, semangat membatik di kalangan warga kampong batik, semakin bertambah seiring ditetapkannya batik sebagai warisan budaya Bangsa Indonesia oleh UNESCO PBB tahun 2009 yang lalu.

Penulis: edwardi
Editor: edwardi
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved