Travel

Ritual Perang Ketupat : Para Pelempar Kerasukan, Cuaca Mendadak Berubah

uansa magis semakin terasa lantaran seorang pemuda berbaju pencak silat tiba-tiba kesurupan mahluk halus.

Ritual Perang Ketupat : Para Pelempar Kerasukan, Cuaca Mendadak Berubah - perang-ketupat_20160530_161436.jpg
BANGKAPOS/IWAN
Perang Ketupat
Ritual Perang Ketupat : Para Pelempar Kerasukan, Cuaca Mendadak Berubah - perang-ketupat_20160530_161055.jpg
BANGKA POS/IWAN
Perang Ketupat
Ritual Perang Ketupat : Para Pelempar Kerasukan, Cuaca Mendadak Berubah - perang-ketupat_20160530_161336.jpg
Bangka Pos/ Iwan
Perang Ketupat
Ritual Perang Ketupat : Para Pelempar Kerasukan, Cuaca Mendadak Berubah - perang-ketupat_20160530_161330.jpg
BANGKAPOS/IWAN
Perang Ketupat
Ritual Perang Ketupat : Para Pelempar Kerasukan, Cuaca Mendadak Berubah - perang-ketupat_20160530_161319.jpg
BANGKAPOS/IWAN
Perang Ketupat

TEMPILANG, BANGKA POS - Terik matahari yang menerpa Pantai Pasir Kuning Desa Air Lintang Kecamatan Tempilang, Minggu (29/5/2016) siang tiba-tiba berubah mendung saat tokoh adat Tempilang Keman memulai prosesi Penimbongan.

Selanjutnya guyuran hujan mengguyur wilayah tersebut seiring dengan menguarnya asap putih dari dupa di tengah belasan pemuda berbaju pencak silat. Sementara sejumlah penari diiringi musik tradisional dengan tenang membawakan tarian Serimbang mengelilingi belasan pemuda itu.

Nuansa magis semakin terasa lantaran seorang pemuda berbaju pencak silat tiba-tiba kesurupan mahluk halus.

Di tengah asap dupa yang terus mengepul, dua orang pemuda berpakaian pencak silat kemudian melakukan tarian Kedidi, tarian pencak silat menirukan kelincahan sejenis burung air bernama Kedidi, menggunakan golok dan tembung (tongkat kayu).

Ribuan penonton dan tamu kehormatan seperti Gubernur Babel Rustam Effendi, Bupati Babar Parhan Ali dan Ketua DPRD Babel Didit Srigusjaya tampak serius menyaksikan ritual yang berlangsung.

"Memang seperti ini dari tahun ketahun pas prosesi Penimbongan. Tahun tadi malah angin ribut menerpa lokasi ini, tapi tidak ada penonton yang kena," ungkap warga setempat sembari terus menyaksikan pelaksanaan prosesi Penimbongan.
Pemuda yang kerasukan mahluk halus berbicara dalam bahasa daerah mengungkapkan rasa senang atas prosesi adat yang digelar.

"Kami sudah ikak (kalian) hibur seperadik. Kami sudah menyaksikan tarian Serimbang dan Kedidi seperadik. Boleh tidak kami minta lagi seperadik," ucapnya dalam keadaan kerasukan.

Usai digelarnya tarian Serimbang yang merupakan tarian wajib dalam prosesi Penimbongan dan atraksi tari Kedidi, tokoh adat setempat Keman kemudian mempersilahkan dimulainya prosesi puncak yaitu saling lempar menggunakan ketupat.

Belasan pemuda berpakaian pencak silat usai berdoa langsung berebutan melempari lawannya menggunakan ketupat yang sudah disiapkan.

Para penonton yang ada di lokasi juga dipersilahkan mencoba saling melempar menggunakan ketupat.

Halaman
123
Penulis: Iwan Satriawan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved