BangkaPos/

Enam Pemuda Tertangkap Mencuri Pasir Timah

Enam pemuda asal Desa Sukamandi, Kecamatan Damar, Belitung Timur (Beltim) harus masuk sel tahanan Polres Beltim.

Enam Pemuda Tertangkap Mencuri Pasir Timah
bangkapos.com/Deddy Marjaya
Ilustrasi: Barang bukti pasir timah yang diamankan Ditkrimsus Polda kep bangka Belitung dari kolektor di Sungailiat. 

BANGKAPOS.COM, BELITUNG -- Enam pemuda asal Desa Sukamandi, Kecamatan Damar, Belitung Timur (Beltim) harus masuk sel tahanan Polres Beltim.

Mereka diduga terlibat tindak pidana pencurian di gudang timah milik Joni (25) di Desa Suka Mandi, Kecamatan Damar, Belitung Timur.

Mereka masing-masing berinisial DY (23), HA (17), In (20), IR alias BC (21), TY (21), dan CH (17).

Kasat Reskrim Polres Beltim AKP Yogi Pramagita mewakili Kapolres Beltim AKBP Nono Wardoyo mengatakan, keenam tersangka adalah pelaku yang terdiri dari dua kelompok untuk satu pelapor.

"Dua kali laporannya. Pertama pada 23 Mei, korban melapor karena sering kehilangan pasir timah. Setelah itu terjadi lagi, pencurian tanggal 30 Mei kemarin," ujar Yogi.

Polisi turun melakukan penyeledikan dengan melihat CCTv (Closed Camera Television) di gudang timah tersebut.

Hasil pendalaman, tersangka mengarah kepada satu orang kemudian berkembang menjadi enam orang tersangka yang terdiri dari dua kelompok.

Pengakuan tersangka dari pengembangan kasus, bahwa pencurian itu dilakukan lebih dari satu kali.

"Nilai biji pasir timah yang dicuri, dari keterangan di LP (laporan polisi) itu sekitar Rp 1 juta. Tapi jika ditotalkan kerugiannya Rp 10 juta, karena ada tersangka yang berulang kali melakukan tindakan pencurian. Tidak semua tersangka, tapi ada yang belasan kali, ada yang tiga kali," ujar Yogi.

Polisi menjerat keenam tersangka dengan Pasal 363 KUHPidana ayat 1 ke 4 dengan ancaman tujuh tahun penjara. Polisi juga menyita barang bukti berupa pasir timah, peralatan mencuci timah, dan karung.

Kata Yogi, dari pengakuan tersangka, motif pencurian tersebut adalah memenuhi kebutuhan ekonomi sehari-hari.

"Mereka habis ngambil itu, dicuci, dipanggang, disimpan, dan keburu ketahuan. Mereka ngakunya untuk kebutuhan sehari-hari karena sehari-harinya mereka kerja melimbang. Semua putus sekolah, dan untuk pelaku anak-anak ini kami perlakukan khusus, kami splitkan dan kami juntokan dengan UU Pengadilan Anak. Kami juga akan memanggil keluarganya dulu," beber Yogi. (M3)

Editor: Hendra
Sumber: babel news
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help