Ibu Kota Sudan Kekurangan Air, Listrik, dan Bahan Bakar

Kekurangan air, fluktuasi pasokan listrik, dan kelangkaan bahan bakar secara bersamaan merusak kegembiraan warga Khartoum

Ibu Kota Sudan Kekurangan Air, Listrik, dan Bahan Bakar
AFP
Salah satu SPBU di Khartoum, Sudah yang dirusak dalam unjuk rasa menentang kenaikan harga BBM di Sudan. 

BANGKAPOS.COM, KHARTOUM - Kekurangan air, fluktuasi pasokan listrik, dan kelangkaan bahan bakar secara bersamaan merusak kegembiraan warga Khartoum, ibu kota Sudan, dalam menyambut Ramadhan, yang tahun ini hadir di tengah suasana panas.

Meskipun sebelumnya ada janji dari Perusahaan Air Negara Bagian Khartoum mengenai "musim panas yang bebas dari pemutusan pasokan", namun sebagian besar daerah di ibu kota Khartoum, tetap menderita kekurangan air.

Warga Al-Azhary, salah satu permukiman terbesar di Khartoum, mengeluhkan kekurangan air, yang menambah penderitaan mereka selama Ramadhan.

"Tidak ada air sama sekali selama lebih dari lima hari. Kebanyakan warga di permukiman ini dipaksa membeli air," kata At-Tigani Adam, warga lokal kepada Xinhua, baru-baru ini.

"Air sangat penting, terutama saat Ramadhan. Ini adalah penderitaan nyata dan pemerintah terkait harus turun-tangan untuk menemukan penyelesaian cepat," ia menambahkan.

Anggota Dewan Legislatif Negara Bagian Khartoum mengecam Kementerian Prasarana dan Perusahaan Air di negara bagian tersebut.

Dua lembaga itu juga dituduh gagal memenuhi janji mereka.

Krisis air tersebut berbarengan dengan fluktuasi pasokan listrik, terutama selama siang hari.

Kondisi itu meningkatkan penderitaan penduduk Khartoum, terutama di bawah temperatur tinggi pada awal Ramadhan. Temperatur tercatat 47 derajat Celsius.

Pada penghujung Mei, Kementerian Sumber Daya Air dan Kelistrikan Sudan berjanji akan menghentikan program pemutusan pasukan sampai Juni.

Halaman
12
Editor: edwardi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved