Pengalaman Syafri Pemuda Babel Puasa 17 Jam, Untung di Turki Musim Panas

Pemuda Pangkalpinang ini mengisi waktu luang di luar kuliah dengan membaca buku dan sekadar jalan-jalan ke pasar di Turki.

Pengalaman Syafri Pemuda Babel Puasa 17 Jam, Untung di Turki Musim Panas
Istimewa
Syafri Hariansah, mahasiswa Ankara University, asal Pangkalpinang, Bangka Belitung. 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Alza Munzi

BANGKAPOS.COM, BANGKA - ‎Hari menunjukkan pukul 17.09 waktu Turki, Jumat (17/6/2016). Masih menyisakan tiga setengah jam lagi berbuka puasa di negara bekas Kerajaan Islam Utsmaniyah itu.

Namun, tidak menghalangi Syafri Hariansah (27), mahasiswa program doktor jurusan hukum publik Universitas Ankara, menjalani ibadah puasa secara khusyuk.

Bagi Syafri, ini pengalaman pertama berpuasa selama 17 jam di negeri yang selama lebih 600 tahun menjadi pusat Khilafah Islamiyah dunia, sejak kedatangannya pada Agustus 2015 lalu.

Pemuda dari Kampung Asam, Kota Pangkalpinang, Bangka Belitung ini mengisi waktu luang di luar kuliah dengan membaca buku dan sekadar jalan-jalan ke pasar membeli kebutuhan berbuka puasa dan sahur.

"Waktu Maghrib di Turki sekitar pukul 20.30,‎ dan imsyak pukul 02.45, jadi jaraknya sangat pendek. Alhamdulillah, bisa melaluinya, apalagi di sini musim summer," kata Syafri yang akrab disapa Anca saat berbincang-bincang dengan bangkapos.com melalui Whatsapp, Jumat (17/6/2016) malam.

Menurutnya, suasana puasa di Indonesia dan Turki tidak jauh berbeda, karena penduduknya banyak muslim. Hanya saja, ujar Anca, meski berpenduduk 99 persen muslim, suasana sekuler di Turki sangat kentara.

Di tempatnya tinggal, Kota Ankara, aktivitas warganya berjalan seperti hari biasa. Jauh berbeda di Indonesia, yang masih kuat toleransi masyarakatnya.

"Pengaruh sekuler sangat terasa, kadang tidak rasional, jadwal kuliah berbenturan dengan salat Jumat. Sejarah panjang Turki dan tarik menarik Islam vs sekuler masih terasa," katanya.

Peraih beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan RI itu, tinggal di asrama yang disebut Orgenci Evi dan kadang masak sendiri saat berbuka dan sahur.

Halaman
12
Penulis: Alza Munzi
Editor: fitriadi
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved