20 Orang Jadi Tersangka Kasus Vaksin Palsu

Harga vaksin palsu dan asli terpaut cukup jauh karena vaksin yang dipalsukan merupakan produk impor atau hanya diproduksi di luar negeri.

20 Orang Jadi Tersangka Kasus Vaksin Palsu
Tribunnews.com
Vaksin palsu khusus balita yang disita pnyidik Direktorat Tindak Pidana Khusus Bareskrim Polri. 

BANGKAPOS.COM, JAKARTA - Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri yang menangani kasus vaksin palsu meyakini para pengguna vaksin palsu telah menyadari vaksin yang digunakan bukan produk asli.

"Setidaknya para tersangka sudah sepantasnya tahu, mereka bisa perhatikan dari harga vaksin yang dibeli dari suplier," tutur Kepala Bareskrim Mabes Polri, Irjen Ari Dono Sukmanto dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi IX DPR RI, Kamis (14/7/2016).

Dari penyelidikan yang telah dilakukan diketahui bahwa harga vaksin palsu dengan yang asli terpaut cukup jauh karena vaksin yang dipalsukan merupakan produk impor atau hanya diproduksi di luar negeri.

Namun, Irjen Ari Dono tidak menyebutkan selisih atau nominal harga vaksin palsu dengan vaksin asli. Informasi lain menyebutkan harga vaksin palsu Rp 30 ribu/botol dari produsen dan distributor menjualnya Rp 70 ribu - Rp 100 ribu/botol

Pada pertemuan itu, Kabareskrim juga memaparkan bahwa jumlah tersangka telah bertambah menjadi 20 orang dan telah menahan sebanyak 16 orang di antaranya.

Empat tersangka tidak ditahan karena berbagai alasan seperti berstatus ibu memiliki anak kecil atau pelaku masih di bawah umur,.

Dari 20 tersangka itu enam adalah produsen, lima distributor, tiga penjual, dua orang pengumpul botol vaksin bekas, satu pencetak label dan bungkus, satu bidan, dan dokter dua orang.

Sebagian besar tersangka pernah bekerja dan berpengalaman di bidang farmasi. Bahkan beberapa di antara tersangka memiliki apotek dan toko obat.

Mabes Polri baru saja menetapkan dua orang dokter menjadi tersangka kasus vaksin palsu, Kamis. Dua orang itu yakni dr AR dan dr HUD. Keduanya memiliki peran sengaja membeli vaksin palsu dari distributor tidak resmi.

"Hari ini penyidik menetapkan tersangka terhadap dr AR, dokter klinik Pratama Adipraja dan dr HUD, kepala RSIA Sayang Bunda," jelas Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri Brigjen Agung Setya.

Halaman
123
Editor: fitriadi
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved