Albana : Penguasa yang Suka Mengancam Biasanya Minim Prestasi

Pernyataan Bupati Belitung Sahani Saleh alias Sanem mengagetkan. Bahkan menakutkan.

Albana : Penguasa yang Suka Mengancam Biasanya Minim Prestasi
dok
Albana, Politisi PDI Perjuangan 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Pernyataan Bupati Belitung Sahani Saleh alias Sanem mengagetkan. Bahkan menakutkan. Sebagai Bupati, Sanem mengancam akan menebas leher wartawan jika menulis proyek jalan di Selat Nasik tidak benar. Ancaman itu megerikan apalagi keluar dari mulut seorang Bupati.

Belum lagi ancaman ini reda, giliran Wakil Bupati Bangka Rustamsyah, meski tak sesadis yang dilontarkan Sanem, Rustamsyah juga mengancam para kepala sekolah jika berbicara ke media.

"Ancaman bahkan sudah mengarah kepada intimidasi dari para pemimpin terhadap bawahan dan media menjadi sangat serius. Pemimpin sebagai pemegang kuasa seakan dengan mudah meneror siapa saja yang dianggapnya tak bisa bekerjasama atau manut. Apa yang terjadi dengan kondisi psikologis para kepala daerah ini," kata Albana, Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Bangka Belitung, Jumat (29/7/2016).

Politisi yang dulunya aktif sebagai jurnalis itu menilai pemimpin yang kerap mengancam biasanya minim prestasi dan tak memiliki kemampuan kerja yang baik.

"Jika tidak mau dikatakan gagal. Bawahan dan media adalah sasaran, sebab bawahan dituntut untuk manut dan media untuk sepi dari kritik dan tak berkutik segala kegagalan dalam memimpin," kata Albana.

Menurutnya para kepala daerah tipikal ini membangun kekuasan diatas ketakutan. Intimidasi dan ancaman, terutama terhadap bawahan dan pers, itulah yang ditampilkan Sanem dan Rustamsyah. "Tak.menutup kemungkinan siapapun yang berhadapan dengannya dengan.mudah pula diancam," kata Albana.

Cara berkuasa seperti ini biasanya muncul diawal para diktator, membangun rezimnya. Ancaman bahkan diikuti kekerasan.

Sejarah mencatat, prilaku penguasa lokal ini dimasa orde baru melakukan itu, Almarhum Udin wartawan Bernas mengalami nasib seperti ini. Tercatat kasus lainnya.

"Memang cara seperti ini karena ada yang tak beres dengan.kekuasaan yang dijalani. Lalu pola represif biasanya lahir dari kultur militeristik dan serba tertutup. Agak aneh memang ternyata kultur ini malah digunakan pemimpin yang lahir dari kalangan sipil seperti kedua orang ini. Bahkan berkuasa pada era demokratisasi dengan segala aspek kehidupan publik penuh keterbukaan. Militerpun sudah meninggalkan kultur ini sejak era reformasi," kata dia.

Lanjutnya, lebih menyedihkan prilaku kedua pemimpin tadi manakala seluruh kepala daerah yang dipilih rakyat secara langsung hari-hari ini mengejar prestasi dengan berkarya untuk rakyat.

"Mereka memberikan pelayanan maksimal guna mengejar kesejahtetaan rakyat. Memberi ruang kepada para bawahan untuk lebih kreatif dan menempatkan pers untuk bekerja secara profesional dengan segala kritiknya," kata Albana.

lIronis cara-cara yang jauh dari itu dilakukan dua pemimpin kita tadi. Padahal pers bekerja dilindungi oleh undang undang, undang undang pula yang menjamin keterbukaan terhadap informasi publik.

Menurutnya perbuatan dan ucapan yang mengangkangi undang undang itu sudah sangat tidak pantas dipertontonkan para pemimpin.

"Mereka bukan ada di terminal dan pasar kumuh. Mereka kini sudah berada pada singgasana kuasa, ucap dan tindak seharusnya menjadi contoh dan panutan rakyat," pungkasnya. (*)

Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help