BangkaPos/

Lipsus Kejayaan Lada

Harga Lada Selalu Anjlok Tiap Panen

Kejayaaan lada Babel yang masih diburu sirna dalam sekejap.

Harga Lada Selalu Anjlok Tiap Panen
Bangka Pos / Iwan S
Hijaunya deretan tanaman lada di kebun percontohan BP3L Babel?. 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Krisyanidayati

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Setiap hari berubah. Begitulah harga lada di Bangka Belitung saat musim panen. Tidak hanya itu, nominalnya pun jauh dari harapan petani. Walhasil investasi selama tiga tahun dirasa kurang bermakna. Kejayaaan lada Babel yang masih diburu sirna dalam sekejap.

Abdul Roni, petani Lada di Pulau Besar, Kabupaten Bangka Selatan, menyebut harga Lada pada Selasa (2/8) lalu senilai Rp 118 ribu. Berselang satu hari, harga Lada turun menjadi Rp 115 ribu. Dia menduga harga lada sengaja dipermainkan di saat musim panen seperti sekarang ini.

"Kita tidak tahu apa itu memang harga dari eksportir atau memang dipermainkan ini kan lagi panen, stok banyak. Ini kayaknya bukan pasar dunia yang turun tapi permainan karena pas tanya bos waktu jual kalau Agustus-September memang siklus penurunan, sedangkan bulan ini lagi panen," kata Roni saat dihubungi Bangka Pos, Rabu (3/8/2016).

"Harusnya jangan sampai menurunkan harga sedemikian rupa. Bertahanlah di Rp 150.000, jangan mentang-mentang panen harga drop ya kecewalah petani merekalah nunggu setahun sampai 3 tahun kan minta harga distabilkan di Rp 150.000 kalau memang diatas itu memang bonus bagi petani," lanjutnya.

Roni mengatakan penurunan harga lada berdampak pada hasil yang diperoleh petani dan juga akan berdampak pada menurunnya keinginan orang untuk menjadi petani lada.

Mengembalikan kejayaan lada seperti puluhan tahun silam akan sirna jika harga komoditi ini menurun drastis. Selain itu pihaknya juga harus membayar upah pemetik maupun pemeliharaan dan lada yang kisaran upahnya mencapai Rp 100.000/ hari.

"Margin keuntungan dari nanam lada ini ada tapi resiko untuk mati ini ada, kalau misalnya segala peyakit bisa diatasi harga Rp 120.000 pun masuk, tapi dengan kondisi penyakit kuning yang pasti yang bikin petani berat. Kalau bisa stabilitas harga dijaga karena biar semangat petani tetap terjaga, kalau sekarang ini kan petani butuh biaya yang besar untuk panen justru hargnya hancur ini yang disesalkan," ujar Roni.

"Kita mengeluh karena turunnya sangat drastis. Bulan puasa kemarin agik (masih) Rp 152.000 minggu ni la turun 20.000, kalau idelanya Rp 150.000 perkilo dengan biaya produksi yang tidak sedikit," tambahnya.

Roni memperkirakan biaya produksi lada perbatang berkisar antara Rp 70.000-75.000. Ia membeberkan dirinya menanam lada dengan varitas Lampung Daun Lebar (LDL) yang satu batangnya bisa menghasilkan sekitar satu kilogram lada. Dengan turunnya harga lada di pasaran membuat petani tidak sepenuhnya untung pasalnya ada resiko matinya pohon lada akibat penyakit atau jamur.

Halaman
123
Penulis: krisyanidayati
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help