Sudah Belasan Warga Tewas Dimangsa Buaya, Rencana Peternakan Buaya Tetap Ditentang

Pemerintah Timor Leste tengah membangun sebuah peternakan buaya dengan alasan akan membantu menghentikan peningkatan jumlah kematian

Sudah Belasan Warga Tewas Dimangsa Buaya, Rencana Peternakan Buaya Tetap Ditentang
net
Ilustrasi 

BANGKAPOS.COM--Pemerintah Timor Leste tengah membangun sebuah peternakan buaya dengan alasan akan membantu menghentikan peningkatan jumlah kematian orang yang meninggal dunia akibat diserang buaya.

Dari peternakan itu, pemerintah Timor Leste juga berharap mendapat pemasukan dengan menjual daging dan kulit buaya.

Langkah tersebut bertentangan dengan keyakinan sebagian penduduk yang menganggap buaya sebagai hewan suci.

Di sebuah pangkalan militer yang terletak di pinggiran Ibu Kota Timor Leste, Dili, terdapat dua buaya air tawar yang tersohor, Antonius and Maria.

Mereka adalah maskot Angkatan Darat Timor Leste. Salah satunya merupakan bekas peliharaan Kolonel Toto Suratman, kepala polisi Indonesia pada penghujung 24 tahun kekuasaan Indonesia di Provinsi Timor Timur.

Seorang serdadu bernama Sidonio Barros mengajak saya melihat kedua ekor buaya tersebut dari balik pagar kawat yang tipis.

Serdadu berusia 23 tahun itu menggoyangkan dedaunan dan seekor buaya besar tiba-tiba muncul dari dalam air. Sidonio berjongkok dan membelai hidung buaya seberat 300 kilogram itu dengan lemah lembut.

Buaya tersebut, kata Sidonio, adalah keluarganya, salah satu leluhurnya. Dia lalu menoleh ke arah buaya itu dan mengenalkan saya kepadanya dengan sopan.

Timor Leste, sebuah negara bekas jajahan Portugal, resminya adalah negara Katolik.
Namun, pengaruh animisme masih sangat kuat di sini. Rakyat Timor Leste menjunjung buaya dan punya banyak kisah legenda tentang hewan reptil itu.

Menurut salah satu legenda, Timor adalah bekas buaya sebelum berubah menjadi pulau. Dalam bahasa setempat, buaya disebut Abo, yang juga berarti kakek.

Antonia Fonseca adalah Kepala Desa Tutuala. Dia berkeras bahwa manusia dan buaya saling terhubung.

“Buaya dan manusia adalah satu keluarga. Kita berkerabat. Apapun yang terjadi dan ke manapun kita pergi, keterhubungan itu tidak bisa diputuskan. Sudah diputuskan bahwa sebagian di antara kami akan merawat daratan, dan sebagian lainnya merawat laut. Mereka yang di darat tidak bisa ke laut dan mereka yang di laut tidak bisa ke darat,” papar Antonia.

Dia kemudian mengenalkan saya dengan kepala suku di sini, Nicolau de Santana.

Halaman
1234
Editor: Iwan Satriawan
Sumber: BBC Indonesia
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help