Inilah Sejarah dan Makna Patung Thai Se Ja

Pengurus Kelenteng Kuto Panji Kecamatan Belinyu, Andre Tanjung mengungkapkan sejarah dan makna mengenai Patung Thai Se Ja

Inilah Sejarah dan Makna Patung Thai Se Ja - thai-se-ja-belinyu_20160818_184124.jpg
bangkapos.com/Edwardi
Thai Se Ja acara Sembahyang Rebut di Kelenteng Kuto Panji Kecamatan Belinyu
Inilah Sejarah dan Makna Patung Thai Se Ja - patung-dewi-kuan-im_20160818_184318.jpg
bangkapos.com/Edwardi
Patung Dewi Kuan Im
Inilah Sejarah dan Makna Patung Thai Se Ja - barang-sesembahan_20160818_184457.jpg
bangkapos.com/Edwardi
Barang sesembahan di acara sembahyang Rebut
Inilah Sejarah dan Makna Patung Thai Se Ja - warga-rebur_20160818_184626.jpg
bangkapos.com/Edwardi
Warga yang hadir di acara Sembahyang Rebut di Kelenteng Kuto Panji Belinyu

Laporan Wartawan Bangka Pos, Edwardi

BANGKAPOS.COM, BANGKA – Pengurus Kelenteng Kuto Panji Kecamatan Belinyu, Andre Tanjung mengungkapkan sejarah dan makna mengenai Patung Thai Se Ja, sebagai symbol Dewa Penjaga Arwah (Roh) di acara Sembahyang Rebut Kelenteng Kuto Panji, Rabu (17//8/2016) malam.

Menurut Andre, sejarah mengenai replika patung Thai Se Ja, ada beberapa versi yakni ada yang menyebutnya sebagai penjaga pintu akhirat.

“Tugasnya untuk menjaga dan meminimalisir arwah-arwah jahat yang bergentayangan supaya tidak mengganggu manusia,” jelas Andre.

Ditambahkannya, versi lain menyebut Thai Se Ja sebagai seorang pejuang melawan hal-hal yang ghoib dan oleh Dewi Kuan Im diberikan dua pil. Pil yang pertama untuk merobah manusia yang tadinya normal tumbuh menjadi tidak normal menjadi lebih besar dari manusia normal.

“Lalu berangkat ke medan perang untuk melawan hal-hal yang ghoib. Dulukan banyak pengganggu manusia seperti siluman yang sering mengganggu, karena itulah dikirimkan untuk membasmi gangguan ghoib ini,” ujarnya.

Ditambahkannya dalam medan perang itu Thai Se Ja berhasil menang dan mengalahkan makhluk ghoib, namun ketika akan kembali menjadi manusia biasa ternyata pil kedua untuk mengembalikan ke bentuk manusia normal kembali ternyata hilang di medan perang.

“Karena pil itu hilang sehingga tidak bisa kembali menjadi manusia normal, setelah itu warga Tionghoa menganggapnya sebagai Dewa Penyelamat,” jelasnya.

Dilanjutkannya replika kapal itu berasal dari ajaran Budha, dimana saat puncak acara sembahyang Rebut dilakukan pembakaran patung Thai Se Ja dan Kapal serta property lainnya, dimana dalam ajaran Budha api yang berasal dari pembakaran itu dalam pandangan kasat mata itu berubah menjadi lautan.

“Dalam ajaran Budha mengenal karma, yakni apa yang kita tanam maka itu yang nanti kita tuai. Kalau amal kita baik selama di dunia berharap nanti bila reinkarnasi menjadi manusia yang penuh limpahan rejeki,” katanya.

Sementara persembahan ada hasil panen berupa sayur mayur, umbi-umbian dan buah-buahan, sebagai wujud syukur para petani dan terima kasih kepada Tuhan dengan harapan meminimalisir bencana dan mengharapkan hasil yang lebih baik tahun berikutnya.

“Memang persembahan ini akan diperebutkan pada saat puncak acara nanti. Mengapa harus diperebutkan? Sebenarnya ini analoginya hamper sama dengan acara Grebek Syawal di Jawa, tujuan berebut persembahan ini untuk mengambil berkah dan mengejar impian yang diinginkan, seperti berharap rejeki berlimpah, hasil panen banyak dan tidak mendapatkan gangguan, diberikan umur yang panjang, kesehatan,” harapnya.

Karena warga yang hadir banyak, kita berharap supaya jangan saling terjadi dorong-dorongan dan himpit-himpitan maka diantisipasi jangan sampai terjadi insiden jatuh dan terinjak-injak. Caranya sebelum waktu puncak acara maka warga bisa datang dan melihat-lihat barang persembahan apa yang ingin diambilnya, mereka sudah menyiapkan kantong atau karung sebagai wadahnya.

“Pada saat nanti ada aba-aba, yakni bunyi lonceng dari dalam kelenteng berbunyi, mereka bisa langsung mengambil barang yang diinginkan di tempat yang ditongkronginya,” jelasnya.

Untuk replika baju-baju dan sepatu itu hanya pemahaman jasmani dan rohani, yang mati itukan jasmani kita karena nafas terhenti , tapi roh kita sebenarnya tidak mati. Setelah kematian itukan masih ada kehidupan. Karena itulah kita memperlakukan roh itu seperti manusia biasa, jadi memerlukan baju, sepatu dan lainnya. Dengan prosesi pembakaran itulah media untuk menyampaikannya.

Penulis: edwardi
Editor: edwardi
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved