Atasi Krisis Darah, PMI Sasar Pendonor Muda

PMI Kabupaten Bangka mengalami krisis darah sehingga kesulitan jika ada masyarakat yang membutuhkan darah.

Atasi Krisis Darah, PMI Sasar Pendonor Muda
bangkapos.com/Nurhayati
Tego 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Nurhayati

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Bangka mengalami krisis darah sehingga kesulitan jika ada masyarakat yang membutuhkan darah. Untuk mengatasi kekurangan darah ini, pihak PMI mengandalkan data base para pendonor darah.

"Kalau persediaan darah di Bangka ini masih susah, minim persediaan darah sehingga kita di PMI mengandalkan dari data base relawan," jelas Ketua PMI Kabupaten Bangka Tego, Jumat (25/8/2016) kepada bangkapos.com di Gedung Wanita Sungailiat.

Menurutnya, data relawan donor darah yang tercatat di PMI sebanyak 700 lebih orang dari berbagai golongan darah sehingga jika ada masyarakat yang membutuhkan darah, maka pihak PMI menghubungi para pendonor. Namun tidak semua pendonor darah yang bisa memberikan darahnya karena minimal mereka harus tiga bulan sekali untuk bisa mendonorkan darahnya kembali.

"Sebenarnya banyak tapi karena donor tidak bisa setiap waktu harus tiga bulan sekali minimal ketika di hubungi baru sebulan atau dua bulan, kadang kesulitan di situ, seharusnya memang data base itu harus banyak," ujar Tego.

Untuk golongan darah yang paling banyak di PMI adalah golongan darah O. Sedangkan yang sulit dicari darah AB, memang yang membutuhkan golongan darah ini juga jarang tetapi di PMI memiliki data pendonor darah AB. "Kalau tidak ada ya dari keluarga yang membutuhkan darah itu untuk mendonorkan darahnya," kata Tego.

Oleh karena itu untuk mengatasi krisis persediaan darah ini, pihak PMI menyasar para pendonor muda yakni dari kalangan perguruan tinggi guna memenuhi kebutuhan darah di Kabupaten Bangka.

Untuk itu pihak PMI Kabupaten Bangka rutin mensosialisasikan manfaat donor darah ini kepada para pendonor pemula di perguruan-perguruan tinggi seperti ke Universitas Bangka Belitung (UBB) dan Sekolah Tinggi Ilmu Agama (STAIN).

"Jadi kita sosialisasi itu memang mereka yang mengagas, dari kita narasumbernya. Alhamdulillah seperti tahun ini juga di STAIN kami mengadakan sosialisasi setelah itu baru dilakukan dengan donor ternyata banyak mahasiswa yang mau ikut donor," jelas Tego.

Selama ini diakuinya, banyak mahasiswa yang belum mengetahui manfaat donor darah baik bagi pendonor sendiri, maupun penerima donor darah. Setelah dilakukan sosialisasi kesadaran para mahasiswa mendonorkan darah ini meningkat.

Penulis: nurhayati
Editor: edwardi
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved