Soal Dugaan Plagiat di UBB, Mantan Rektor Prof Bustami Minta Dibentuk Dewan Kode Etik

Tindakan plagiat dalam dunia akademik sangat fatal dan butuh dibentuk dewan kode etik untuk masalah plagiat tulisan.

Soal Dugaan Plagiat di UBB, Mantan Rektor Prof Bustami Minta Dibentuk Dewan Kode Etik
bangkapos.com/Ryan A Prakasa
Prof Dr Bustami Rahman 

MANTAN Rektor UBB Prof Bustami Rahman mengatakan plagiarisme atau yang biasa disebut Plagiat berasal dari bahasa latin Plagiarius yang berarti suatu tindakan yang meniru atau mengambil seutuhanya ide, ekspresi, dan plot tulisan orang lain untuk diatasnamakan diri sendiri tanpa mencantumkan quote (nama pencipta tulisan. Apalagi tulisan ini diambil dari sebagian halaman atau chapter. Orang yang melakukan Plagiatisme disebut sebagai Plagiator.

Tindakan plagiat dalam dunia akademik sangat fatal dan butuh dibentuk dewan kode etik untuk masalah plagiat tulisan.
Dewan etik merupakan otoritas Wakil Rektor (Wareg) 1 bidang Akademik.

Melalui peraturan yang berlaku akan diputuskan apakah diperlukan untuk membentuk dewan kode etik yang terdiri dari otoritas yang memiliki bidang keilmuan pengetahuan yang cukup dan biasanya senior dari intern pejabat otoritas Universitas, dengan rentan waktu butuh berminggu-minggu atau sebulan lamanya untuk mengambil keputusan terhadap plagiator. Melalui Dewan etik akan dibentuk rambu-rambu batas toleransi mengutip tulisan dan meneliti fakta.

Apabila kehadiran dewan kode etik belum dibutuhkan berlandaskan aturan yang berlaku maka dapat diselesaikan melalui rapat pimpinan atau diputuskan melalui senat Universitas. Namun jangan dilupakan bahwa plagiat merupakan masalah serius di bidan akademik sehingga dibutuhkan kehati-hatian, adil dan objektifitas agar tidak menzolimi yang dijadikan tersangka.

Bila terbukti melakukan tindak plagiat makan bukan tidak mungkin akan dikenak sanksi pemberhentian. Seperti pengalaman yang pernah terjadi di universitas dalam dan luar negeri.

Saya tekankan Plagiatisme merupakan perbuatan sangat melanggar karena bagaimanapun pemikiran yang orisinil dari sebuah peneliti itu sangat dihargai.

Peneliti berbasis pada kejujuran, apabila penulis atau peneliti tak jujur maka yang terjadi adalah kerusakan ilmu pengetahuan di mana-mana itu adalah pembohongan publik dan berbahaya kepada kelanjutan peradaban sehingga sangat penting diselesaikan oleh perguruan tinggi. (o2)

SANKSI

* Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 mengatur sanksi bagi orang yang melakukan plagiat, khususnya yang terjadi dilingkungan akademik. Sanksi tersebut adalah sebagai berikut (Pasal 70):

Lulusan yang karya ilmiah yang digunakannya untuk mendapatkan gelar akademik, profesi, atau vokasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 Ayat (2) terbukti merupakan jiplakan dipidana dengan pidana penjara paling lama dua tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).

Halaman
123
Editor: Idandi Meika Jovanka
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved