BangkaPos/

Kisah-kisah Derita Para Pemimpi Kekayaan Korban Dimas Kanjeng

Dari sekian banyak, ada satu tenda yang diberi goresan tulisan berbunyi Tenda Perjuangan. Tulisan ini dicat dengan warna kuning sehingga terlihat...

Kisah-kisah Derita Para Pemimpi Kekayaan Korban Dimas Kanjeng
Surya/Galih Lintartika
Gubuk derita para pemimpi kekayaan berlipat di sekitar Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi, Dusun Sumber Cengkelek , Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Probolinggo. 

BANGKAPOS.COM, PROBOLINGGO -- Ada yang menarik dari ratusan tenda yang ada di Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi Dusun Sumber Cengkelek , Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Probolinggo.

Dari sekian banyak, ada satu tenda yang diberi goresan tulisan berbunyi Tenda Perjuangan. Tulisan ini dicat dengan warna kuning sehingga terlihat sangat mencolok dibandingkan tenda - tenda lainnya.

Tenda ini berada di belakang Padepokan. Lokasinya berbatasan dengan sawah. Luas tenda diperkirakan 4 x 4 meter. Tenda hanya terbuat dari terpal.

Konon ceritanya, tulisan ini dibuat oleh salah seorang pengikut yang resah dan gelisah menunggu pencairan uang mahar yang dijanjikan akan digandakan oleh Dimas Kanjeng, guru besar padepokan.

Salah satu pengikut yang namanya tidak mau diumumkan, mengatakan, tulisan itu dibuat oleh temannya yang bernama Agus asal Jawa Tengah. Ia mengaku tidak mengenalnya secara dekat. Hanya sebatas menyapa antar pengikut Dimas Kanjeng.

"Tulisan itu dibuat untuk menyemangatinya yang sudah lelah. Ia memang sudah putus asa karena uangnya hilang ratusan juta di tangan Dimas Kanjeng. Makanya, dia buat tulisan tenda perjuangan," katanya.

Dia menjelaskan, Agus menganggap bahwa tenda itu saksi hidup perjuangannya selama di padepokan. Menurutnya, Agus memang sudah lebih tujuh bulan bertahan di padepokan dengan kondisi kekurangan. Ia pun rela meninggalkan pekerjannya sebagai pedagang daging di daerah asalnya, termasuk meninggalkan keluargannya.

"Akhirnya Agus tidak kuat memperjuangkannya. Ia memilih pulang kampung sebelum Dimas Kanjeng ditangkap. Ia sudah tidak memikirkan uangnya," paparnya.

Ia pun mengalami hal yang sama. Ia merasakan bahwa hidup di tenda padepokan ini ibarat sebuah perjuangan mencapai kesuksesan. Namun, ia mengaku bahwa titik kesuksesannya ini terlalu panjang dan berliku. Bahkan, ia pun tidak memiliki gambaran apa yang ada di depannya.

"Saya mau pulang saja, tapi ini masih menunggu transferan uang dari istri saya. Begitu ada uang saya pulang ke rumah," paparnya.

Dia menuturkan, sudah tujuh bulan di padepokan. Tujuannya sama dengan pengikut lainnya, menunggu pencairan uang mahar. Sebab, syaratnya sebelum uang mahar yang digandakan cair, pengikut diwajibkan belajar agama mulai mengaji, salat, puasa dan mengamalkan amalan - amalan lainnya.

"Intinya memperbanyak tirakat. Tapi, sampai tujuh bulan ini belum ada pencairan sama sekali. Saya dulu tahu padepokan ini dari teman saya," tuturnya.

Dia mengaku, niatnya memberikan uang mahar ini untuk memperkaya diri. Ia menyebut memiliki hutang dan jumlahnya puluhan juta. Ia tidak memiliki uang sebanyak itu untuk menutupi hutangnya.

"Saya justru semakin banyak hutang sekarang, uang mahar tidak kembali sama sekali," tutupnya. ( Galih Lintartika )

Editor: asmadi
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help