Perebut 4 Emas Para Games 2013 Ungkapkan Isi Hatinya

GUNTUR Amani, atlet difabel cabang olahraga renang andalan Kaltim sudah menjadi langgan meraih medali

Perebut 4 Emas Para Games 2013 Ungkapkan Isi Hatinya
Tribun Kaltim
Guntur Amani, atlet difabel cabang olah raga renang yang membela Kaltim. 

BANGKAPOS.COM, SAMARINDA - GUNTUR Amani, atlet difabel cabang olahraga renang andalan Kaltim sudah menjadi langgan meraih medali di setiap ajang kejuaraan nasional hingga internasional.

Kulitnya terbakar matahari, rambutnya dipotong agak cepak, berbadan sedang namun berotot. Tatapan matanya tajam, namun seperti menyimpan sejumlah permasalahan.

Selasa (11/10) kemarin, Guntut bersama atlet difabel asal Kaltim lainnya berangkat ke Jawa Barat mengikuti Pekan Paralympic Nasional (Peparnas) XV 2016 Jawa Barat. Di balik prestasi yang diraihnya, dengan suara setengah tertahan dan begitu emosional, ia membuka uneg-uneg mengenai persiapan dan permasalahan dirinya selama menjadi atlet Kaltim.

Seperti persiapan Peparnas Jabar ini, latihan, biaya akomodasi, transportasi, peralatan, dan lain sebagainya harus ditanggung sendiri.

"Sudah lama saya ingin menceritakan masalah ini dengan wartawan, agar masyarakat atau pemerintah tahu bagaimana kami ini. Terus terang, persiapan ini , ada atau tidak ada kejuaraan atau pertandingan, seminggu saya latihan tiga kali," kata atlet peraih medali 2 emas dan 1 perak di Asian Para Games Singapore 2015 kepada Tribun di rumahnya, Jalan Selili, RT 44, Kelurahan Manggar, Balikpapan Timur.

"Kami hanya menggunakan biaya sendiri. Tak ada biaya provinsi ataupun biaya dari daerah. Saya pakai uang pribadi."

Semuanya seakan menutup mata dan tak membuka hati nurani. Ya, seperti itulah yang dialami Guntur, pria yang tidak mempunyai tangan kiri sejak 2000 akibat kecelakaan mesin kapal ketika ia pergi melaut.

Untuk biaya latihan, dia terpaksa menggunakan uang tabungan dari bonus mendapatkan medali yang tak seberapa.

Untuk menutupi biaya keperluannya sehari-hari, Guntur memilih bekerja lepas sebagai pembantu nelayan, profesinya dulu sebelum ia menjadi seorang atlet difabel.

National Paralympic Committee (NPC) Kalimantan Timur, kata Guntur, sebagai institusi resmi yang menaungi atlet-atlet provinsi seakan tak pernah memberikan perhatian terhadapnya.

Halaman
12
Editor: edwardi
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help