Kisah Kacang yang 'Membangun' Satu Perusahaan Menjadi Perusahaan Raksasa Dunia

Kacang kola, jika Anda belum pernah melihatnya sendiri, panjangnya sekitar lima cm dan berwarna hijau. Di dalam tempurungnya ada bonggol-bonggol

Kisah Kacang yang 'Membangun' Satu Perusahaan Menjadi Perusahaan Raksasa Dunia
istock
kacang kola 

BANGKAPOS.COM--Minuman Coca Cola bukanlah sesuatu yang asing di keseharian kita. Soalnya minuman ini dengan mudah bisa ditemukan di jajakan di toko-toko hingga di pelosok-pelosok daerah.

Anda mungkin pernah mendengar Coca-Cola mengandung suatu bahan yang mampu membuat orang kecanduan: kokain.

Kata 'coca' pada Coca-Cola mengacu pada ekstrak daun coca (koka) yang dicampur dengan sirup gula dibuat oleh pembuat asli minuman tersebut yaitu pakar kimia dari Atlanta, John Pemberton.

Baca: Inilah Kisah Hijrah Para Artis, Ada yang Tak Percaya Tuhan Hingga Rela Tinggalkan Ketenaran

Pada waktu itu, akhir abad ke-19, ekstrak daun koka yang dicampur dengan minuman anggur atau wine adalah minuman tonik yang biasa, dan minuman manis buatan Pemberton adalah suatu cara untuk mengakali peraturan yang melarang penjualan alkohol.

Namun, nama kedua dari minuman tersebut (Cola) mewakili bahan lainnya, yang kurang terkenal, tapi juga ampuh yaitu kacang kola.

Baca: Ini Tradisi Unik Pernikahan, Dari Tradisi Nomor Amplop Hingga Larangan Senyum di Resepsi

Kacang kola, jika Anda belum pernah melihatnya sendiri, panjangnya sekitar lima cm dan berwarna hijau. Di dalam tempurungnya ada bonggol-bonggol daging kacang yang seperti Anda temukan di dalam tempurung chestnut, tapi berwarna kemerah-merahan atau putih.

Di Afrika Barat, di habitat asli kacang kola, orang-orang mengunyahnya sebagai stimulan. Itu karena kacang tersebut mengandung kafein dan theobromine, zat-zat yang juga secara alami ada di teh, kopi, dan cokelat.

Kacang kola juga mengandung gula dan kolanin yang disebut sebagai stimulan jantung.

Banyak kegunaan dari kacang kola, dan perkebunannya di Afrika Barat sudah berumur ratusan tahun.

Sejarawan, Paul Lovejoy, menceritakan bahwa selama bertahun-tahun, pepohonan lebat yang tersebar luas tersebut ditanam di tanah pekuburan dan sebagai bagian dari ritual masa pubertas.

Halaman
1234
Editor: Iwan Satriawan
Sumber: BBC Indonesia
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved