Antara Fakta dan Berita Palsu Soal Demo 4 November, Ahok, Kompas TV hingga Turki

Aksi itu sendiri menjadi perdebatan di media sosial yang terus menghangat dan berbagai tuduhan dilemparkan oleh

Antara Fakta dan Berita Palsu Soal Demo 4 November, Ahok, Kompas TV hingga Turki
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Massa yang tergabung dalam Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI (GNPF MUI) melakukan aksi unjuk rasa di sekitar Patung Kuda, Jakarta, Jumat (4/11/2016). Aksi tersebut menuntut penutasan kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan Basuki Tjahaja Purnama. 

BANGKAPOS.COM-- Puluhan ribu umat islam  yang tergabung dalam Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI (GNPF MUI) yang terdiri  dari gabungan ormas dan ulama, turun ke jalan, Jumat (04/11) pekan lalu, menuntut Ahok dipenjara karena dituduh telah melakukan penistakan agama.

Gubernur Jakarta itu, Senin (8/11) sudah  menjalani pemeriksaan di Mabes Polri terkait dugaan penistaan tersebut.

Baca: Pernyataan Sikap PBNU:Tak Tepat Menstigma Aksi 4 November Ditunggangi Pihak Tertentu

Aksi itu sendiri menjadi perdebatan di media sosial yang terus menghangat dan berbagai tuduhan dilemparkan oleh berbagai pihak tanpa diketahui motif dan sumbernya.

Baca: Inilah Enam Fakta Ahok saat Jalani Pemeriksaan di Mabes Polri

Berikut sejumlah fakta dan konfirmasi dari otoritas terkait seputar kabar dan klaim yang beredar di media sosial terkait unjuk rasa 4 November yang dirangkum oleh BBC Indonesia: 

1. Wartawan Kompas TV 'bukan provokator'

Pengguna Facebook, Azzam Mujahid, dalam akunnya menulis bahwa wartawan Kompas TV Muhammad Guntur adalah 'provokator kericuhan yang sebelumnya ditangkap karena melempar botol minuman dari arah demonstran ke petugas keamanan.'

"Tetiba, sosok wajah dan tubuhnya hadir di Kompas TV dan telah berubah status menjadi korban kericuhan," tulisnya, membuat banyak orang terpicu amarah dan mencap Kompas TV sebagai media yang 'benci Islam'.

Baca: Azzam Mujahid Izzulhaq Penyebar Fitnah Kameramen Kompas TV Provokator Minta Maaf 

azzam penebar provokator

Tetapi, kejadian sesungguhnya tidak demikian. Mutiara Ramadhini, rekan Muhammad Guntur dalam Facebooknya menulis alur kejadiannya.

"Saya tanya sama Guntur apa yang terjadi, dia bilang dia diteriakin provokator, padahal awalnya saat mengambil visual itu keadaan sangat kondusif dan tidak terjadi apa apa. Melihat ada wartawan, satu orang teriak dan mengatakan ada provokator, ditanya soal dari TV mana, Guntur dengan jujur jawab dari Kompas TV. ID card diambil," katanya.

Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin kemudian mengeluarkan pernyataan kepada sejumlah media dan menegaskan bahwa Muhammad Guntur adalah wartawan yang dia kenal dan bukan provokator.

Halaman
1234
Editor: Iwan Satriawan
Sumber: BBC Indonesia
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved