Cerita Operasi Elang, Kisah Penerjunan Pasukan AURI di Hutan Rimba Papua

Prajuritnya dikenal masih bau kencur. Tak masalah toh, karena yang penting semangat bertempur sudah begitu tinggi. Begitu menyelesaikan pendidikan...

Cerita Operasi Elang, Kisah Penerjunan Pasukan AURI di Hutan Rimba Papua
Istimewa

BANGKAPOS.COM -- Pelton 2 dan 4 Resimen Tim Pertempuran Pasukan Gerak Tjepat (RTP PGT) TNI AU di tahun 1962 masih kering pengalaman tempur.

Baca: Asyiknya, Melania Trump dan Michelle Obama Minum Teh Bersama

Prajuritnya dikenal masih bau kencur. Tak masalah toh, karena yang penting semangat bertempur sudah begitu tinggi.

Begitu menyelesaikan pendidikan terjun di Margahayu, Bandung mereka diperintahkan untuk terjun di bagian penutup dari fase infiltrasi ke Irian Barat.

Baca: Jokowi Cek Kesiapan Ribuan Prajurit Marinir dari Atas Tank Amfibi BMP-3

Seperti diakui Peltu (Pur) Rusmin dan Peltu (Pur) Joseph Dole Lehera, setidaknya mereka sudah tujuh kali terjun statik saat mengikuti pendidikan para di Margahayu.

Baca: Rakyat California Ingin Jadi Negara Sendiri Lepas dari Amerika karena Kecewa Trump Menang

Mereka adalah bagian dari sekitar 130 anggota baru PGT yang disiapkan untuk melaksanakan operasi, setelah sebelumnya digojlok di pusat pendidikan tamtama AURI di Lanud Panasan, Solo, dan Jombang, Jawa Timur.

Di Margahayu saat itu sudah disiapkan dua kompi PGT. Karena innocence, di antara mereka malah saling ngeledek, menjadikan operasi ini sebagai bahan guyonan. “Siapa yang tidak berani terjun, sekarang pulang kampung, pakai BH saja”.

Baca: Kontroversi, Inilah 5 Dampak Kemenangan Trump terhadap Asia

Hari itu, 5 Agustus 1962, dicatat Lehera yang sudah status konsinyir di Margahayu. Selama masa konsinyir, mereka dimanjakan dengan menu makanan yang sehat dan bergizi.

Di hari-hari itu pula, pikiran dan emosi mereka mulai digiring ke situasi perang dengan mewajibkan menonton film perang di sebuah bioskop di komplek Margahayu. Esoknya dilaksanakan apel besar.

Sejak saat itu, barak-barak dijaga ketat. Tidak diperbolehkan lagi keluyuran, sehingga terpaksa membatalkan janji dengan pacar.

Sambil menunggu hari keberangkatan, Mako terus melengkapi setiap prajurit dengan bekal pokok. Sejumlah obat dimasukkan ke dalam ransel, seperti obat antiracun, obat antimalaria, dan obat penjernih air.

Halaman
1234
Editor: asmadi
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help