Kisah Nakamura di Perang Dunia II Kini Terungkap dari Benda Peninggalan Perang di Morotai

Konon menurut cerita warga setempat, Nakamura tinggal di gubuk kayu beratap rumbia ukuran 2x2 meter persegi. Ia tidur beralaskan kayu melengkung..

Kisah Nakamura di Perang Dunia II Kini Terungkap dari Benda Peninggalan Perang di Morotai
Kompas/Lucky P
Muhlis Eso menyusuri tempat persembunyian prajurit Jepang, Teruo Nakamura, di Air Terjun Nakamura di Desa Dehegila, Morotai, Maluku Utara, Minggu (17/7). Tempat ini dinamakan Air Terjun Nakamura sesuai nama prajurit Jepang yang bersembunyi dari tentara Amerika Serikat pada masa Perang Dunia II. 

BANGKAPOS.COM-DUDUK bersimpuh, seorang pemuda meletakkan surat wasiat di lantai. Ia kemudian melepaskan pakaian dan mengambil pedang katana untuk dihunjamkan ke sisi perut, lalu terdiam dalam posisi itu sampai mati.

Baca: Inilah Kondisi Angelina Sondakh di Penjara, Hingga Diposting oleh Ustaz Arifin Ilham

Betul, itu adalah penyederhanaan prosesi harakiri atau seppuku—bunuh diri khas Jepang—yang lebih sering dilakukan para samurai. Biasanya orang yang memilih seppuku telah kehilangan kehormatan akibat melakukan kejahatan, aib, atau merasa gagal menjalankan tugas.

Pada akhir Perang Dunia II harakiri juga menjadi pilihan bagi tentara Jepang, sebagai pasukan yang kalah perang. Mereka merasa lebih baik mati terhormat—berdasarkan budaya Jepang—daripada menjadi tawanan musuh atau pulang dengan kekalahan.
Namun, hal itu tak dilakukan Teruo Nakamura, prajurit Jepang yang berperang di Morotai, Maluku Utara. Pulau ini merupakan salah satu tempat strategis yang diperebutkan Jepang dan Sekutu selama Perang Dunia II.

Baca: Jika Ingin Demonstrasi, Menurut Panglima TNI Harus Ada Syarat yang Perlu Dipenuhi

Pada 15 September 1944 pasukan Sekutu menyerang tentara Jepang di Morotai. Singkat cerita, dengan jumlah pasukan yang lebih banyak, Sekutu menaklukkan Jepang dan menjadi penguasa baru di sana.
Saat itu, Nakamura memilih kabur dan berlindung di pedalaman hutan Morotai. Selama 30 tahun sesudahnya, dia tidak tahu bahwa rezim dan zaman sudah berubah. Bahkan dia tidak tahu bahwa Perang Dunia II telah lama usai.

Konon menurut cerita warga setempat, Nakamura tinggal di gubuk kayu beratap rumbia ukuran 2x2 meter persegi. Ia tidur beralaskan kayu melengkung yang rencananya juga akan dia gunakan untuk membakar diri bila sudah merasa benar-benar tak berdaya di tengah hutan.

“Gubuk itu lokasi persembunyian Nakamura, “ ujar Muhlis Eso yang sehari-hari mencari benda-benda peninggalan Perang Dunia II di Morotai ketika dihubungi Kompas.com, Kamis (10/11/2016).

Patung Nakamura
Monumen Teruo Nakamura di Morotai, Maluku Utara, Jumat (14/9/2012). Teruo Nakamura adalah suku asli Taiwan yang direkrut menjadi tentara sukarela kekaisaran Jepang pada perang dunia ke 2, Sebagai pasukan khusus perang gerilya untuk mempertahankan kepulauan Morotai dari gempuran tentara Sekutu.

Keberadaan Nakamura baru terungkap pada akhir 1974. Itu pun tak sengaja. Seorang warga Desa Pilowo bernama Luther Goge yang melihat Nakamura di hutan, melaporkan hal itu ke kepolisian setempat.

Usai Nakamura tertangkap dan hendak dipulangkan ke Jepang, barulah terungkap bahwa dia bukan warga negara Jepang. Nakamura ternyata asli orang Taiwan yang saat Perang Dunia II dimasukkan ke Unit Sukarela Takasago dari Angkatan Darat Kekaisaran Jepang.

Baca: Ini Kata Luna Maya Ketika Film Barunya Disebut Menyindir Masa Lalu

Mungkin juga itu alasan kenapa Nakamura tidak melakukan harakiri layaknya prajurit Jepang yang kalah berperang.

Jadi Lekat dengan Morotai
Kisah nyata Nakamura tak berhenti pada 1974. Pelarian dan persembunyiannya justru menginspirasi banyak orang. Belakangan, Nakamura malah jadi salah satu ikon wisata Morotai.

Halaman
1234
Editor: dedypurwadi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help