Kecelakaan di Tikungan Maut Petaling

Seminggu Sebelum Tewas, Pria yang Periang itu Terlihat Lebih Religius

Beberapa firasat sudah dirasakan rekan kerja salah satu Heri korban kecelakaan maut yang menelan empat korban

Seminggu Sebelum Tewas, Pria yang Periang itu Terlihat Lebih Religius
Bangka Pos/feri laskari
Satlantas Polres Bangka olah TKP kecelakaan maut di Petaling, Mendo Barat, Bangka 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Ajie Gusti Prabowo

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Beberapa firasat sudah  dirasakan rekan kerja salah satu  Hery korban kecelakaan maut  yang menelan empat korban jiwa di tikungan Desa Petaling Kecamatan Mendobarat Kabupaten Bangka, Minggu (6/12/2016) sore lalu.

Satu diantaranya sejak beberapa minggu sebelum kejadian, korban sering mengajak untuk salat berjamaah.

Hery sendiri merupakan salah satu korban tewas dalam Kecelakaan maut  yang menelan empat korban jiwa di sekitar tikungan jalan Raya Pangkalpinang-Muntok, tepatnya di Desa Petaling, Kecamatan Mendobarat, Bangka, Minggu (4/12), menjelang maghrib kemarin

Baca: Angin Puting Beliung Landa Wilayah Pelabuhan Pangkalbalam

‎Ia tewas bersama anak bungsunya Erin (2), sementara sang istri Dewi Kartika Sari (26), dan anaknya Hendriko (6) masih dirawat di rumah sakit.

"Di pesan grup kami pun, almarhum sering memberikan pesan tentang salat, terakhir Minggu pagi sebelum kejadian sempat juga membagikan kata-kata tentang tanda hari kiamat, lebih religius pokoknya," jelas rekan sekaligus pimpinan di Balai Karya Cor PT. Timah Tbk, Munawar saat membesuk istri rekannya yang juga menjadi korban kecelakaan di RSBT Pangkalpinang, Selasa (6/12/2016).‎
‎‎
Selama bekerja di wilayah Air Kantung Sungailiat, rekannya ini di nilai sebagai sosok yang periang dan rajin bekerja.

"Rasa ingin tahunya tinggi, respon kerja dan peduli kepada kawan-kawan pun sangat cepat, tidak ada lagi yang mengajak bercanda kami, meramaikan suasana," ujarnya yang sempat termenung mengenang kisah rekannya itu.

Sebelum kejadian naas itu pun, Hery sempat mencurahkan keluh kesahnya kepada Munawar terkait kehidupannya sehari-hari.

"Sempat curhat mau memanggil orangtuanya untuk menjaga dan menitipkan anak-anaknya karena sempat sakit, hingga akhirnya kejadian seperti ini," sesalnya.

Dirinya bahkan sebelum kejadian sempat mampir kerumah korban di wilayah Kecamatan Gerunggang. Namun, saat itu keluarga yang menjadi korban tidak ada di rumahnya.

Halaman
1234
Penulis: Ajie Gusti Prabowo
Editor: Iwan Satriawan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved