Inilah Arti Tiga Kalimat pada Status Facebook Buni Yani Menurut Ahli Bahasa

"Kalimat pertama yang berbunyi, 'Penistaan terhadap agama?' menunjukkan modalitas kesangsian atau keragu-raguan,"

Inilah Arti Tiga Kalimat pada Status Facebook Buni Yani Menurut Ahli Bahasa
Andri Donnal Putera/Kompas.com
Kepala Bidang Hukum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Agus Rohmat meminta keterangan ahli dari Kemenkominfo dalam sidang lanjutan praperadilan Buni Yani di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jumat (16/12/2016). Pada sidang hari ini, Polda Metro Jaya akan menghadirkan tiga saksi ahli dan dua saksi fakta. 

BANGKAPOS.COM, JAKARTA -- Ahli Bahasa Indonesia spesialisasi linguistik forensik Universitas Negeri Jakarta, Krisanjaya, menjelaskan makna status Facebook Buni Yani yang membuatnya tersangkut masalah hukum pada sidang lanjutan praperadilan terkait status tersangka Buni di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jumat (16/12/2016).

Baca: Lawan Indonesia, Pelatih Thailand Mulai Waswas, Ternyata Ini Alasannya

Krisanjaya dihadirkan Polda Metro Jaya sebagai saksi ahli dalam sidang praperadilan tersebut.

"Kalimat pertama yang berbunyi, 'Penistaan terhadap agama?' menunjukkan modalitas kesangsian atau keragu-raguan," kata Krisanjaya di hadapan majelis hakim.

Baca: Tjahjo Bilang, Ahok Diberhentikan Sementara sebagai Gubernur DKI Setelah Selesai Cuti Kampanye

Kalimat kedua yang berbunyi, "Bapak-Ibu (pemilih Muslim)... dibohongi Surat Al Maidah 51"... (dan) "masuk neraka (juga Bapak-Ibu) dibodohi", dinilai Krisanjaya sebagai penggalan dari kutipan langsung seseorang, dalam hal ini penggalan dari kutipan ucapan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

Baca: Berani, Aktris Lebanon Ini Bilang Saya sangat cinta dengan Rio

Menurut Krisanjaya, yang ditulis Buni itu bukanlah transkrip dari video pidato Ahok karena kalimat itu tidak sama dengan isi video.

"Kalau yang dibilang transkrip, harus dimasukkan juga penggambaran suasana atau suara yang timbul dari rekaman itu, sehingga yang ditulis itu bukan ucapan Pak Basuki. Tanggung jawab atas tulisan itu melekat pada diri penulis," kata Krisanjaya.

Lalu kalimat ketiga, "Kelihatannya akan terjadi sesuatu yang kurang baik dengan video ini", disebut Krisanjaya sebagai sebuah perkiraan yang akan terjadi dalam waktu dekat atau singkat.

Penetapan status tersangka Buni berawal dari laporan Komunitas Muda Ahok Djarot (Kotak Adja) ke Polda Metro Jaya. Ketua Kotak Adja, Muannas Alaidid, berpendapat Buni memprovokasi masyarakat melalui unggahan ulang video pidato Ahok saat di Kepulauan Seribu.

Buni dijerat Pasal 28 ayat 2 juncto Pasal 45 ayat (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik tentang penyebaran informasi yang ditujukan untuk menimbulkan kebencian atau permusuhan berdasarkan SARA. Ancaman hukuman untuk Buni adalah kurungan maksimal enam tahun penjara dan denda hingga Rp 1 miliar.

Editor: asmadi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved