Ibu Ini Rela Berikan Ginjal Kepada Anaknya, Ini Alasannya

Reskiana merupakan pasien yang akan menjalani operasi transplantasi ginjal, Kamis (7/12/2015). Semua biaya operasinya ditanggung BPJS Kesehatan

Ibu Ini Rela Berikan Ginjal Kepada Anaknya, Ini Alasannya
Tribun Sumsel
Rezkiana (tengah) diapit kedua orangtuanya Abas dan Maimunah. Rezkiana bisa berkumpul lagi bersama kedua orangtuanya usai menjalani tranplantasi ginjal yang dibiayai oleh BPJS Kesehatan. 

Suasana bahagia itu diharapkan Abas tetap terus terjaga. Ia tidak mau lagi ada diantara keluarganya yang mengalami sakit.

"Cukuplah melihat Rezkiana sehat kembali. Saya sudah bersyukur," jelasnya

Diceritakan Abas, saat mengetahui putrinya didiagnosa mengalami gagal ginjal dirinya sangat terpukul.

Selain tidak tahu apa yang harus dilakukan, ia juga memikirkan biaya pengobatan yang tidak sedikit.

Rezkiana dirawat di rumah sakit sejak bulan Agustus 2015. Sejak itu pula dirinya tidak bisa tidur nyenyak. Memikirkan nasib anaknya.

Apalagi dokter menyarankan agar Rezkiana harus melakukan cuci darah dua kali seminggu.

Beruntung Abas dan anggota keluarganya memegang Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang dikeluarkan oleh BPJS Kesehatan.

"Awal pertama diluncurkan, kami sekeluarga sudah diberi KIS," ujarnya

Selama anaknya menjalani proses cuci darah Abas cukup membawa KIS dan anaknya langsung mendapatkan penanganan dari rumah sakit.

"Alhamdulilah selama Rezki cuci darah tidak ada masalah dengan KIS. Lancar saja," tambahnya.

Demikian pula saat dokter memutuskan untuk melakukan operasi transplantasi ginjal. Ia tidak menyangka jika ada yang menanggung semua biayanya..

"Bisa berkumpul lagi seperti ini rasanya sudah sangat bersyukur. Banyak terimakasih kepada semua pihak yang membantu operasi anak saya," ujarnya.

Kondisi Rezkiana Sekarang

Beberapa waktu lalu Tribun Sumsel melihat kondisi Rezkiana pascaoperasi.

Rezkiana bersama ibunya Maimunah (53) baru saja kembali ke rumahnya di Jalan DI Panjaitan Plaju Palembang.

Ayahnya Abas (54) menyambut keduanya dengan senyuman. "Bagaimana dapat obatnya,"tanya Abas.

Anggukan kepala Rezkiana mengisyaratkan bahwa apa yang ditanya ayahnya telah ia dapatkan.

Rezkiana dan ibunya baru saja pulang dari rumah sakit untuk mengambil obat.

Ia harus mengonsumsi obat khusus agar ginjal yang terpasang di tubuhnya dapat berfungsi normal.

Keluarga Rezkiana bukanlah keluarga berada.

Rumah yang mereka tempati hanya berukuran sekitar 4x4 meter. Hanya ada satu kamar yang juga berfungsi sebagai ruang keluarga.

Penghasilan ayah Rezki sebagai penjual kopi hanya cukup digunakan untuk makan sehari-hari. Sedangkan ibunya tidak bisa lagi bekerja keras usai ginjalnya didonorkan.

Rezkiana sempat menyerah dengan gagal ginjal yang ia alami. Terutama saat harus bolak-balik rumah sakit untuk cuci darah.

Lima bulan menjalani cuci darah tanpa mengubah kondisi fisiknya membuat ia sampai pada titik jenuh.

Ia pun berucap pada ibunya untuk tidak lagi mau cuci darah dan pasrah menerima takdir yang akan dialami.

"Cuci darah tidak membuat saya baik. Saya sudah menyerah saat itu," ujarnya bercerita.

Mendengar ucapan anaknya, air mata Maimunah langsung menetes. Sekuat tenaga ia membujuk anaknya untuk tidak menyerah. Bahkan dirinya rela jika harus memberikan ginjal untuk anaknya tersebut.

"Semua orang pasti akan meninggal. Tapi selagi mau berusaha harapan sembuh masih ada," ujar Maimunah meyakinkan anaknya.

Saat berada di rumah sakit untuk cuci darah, Maimunah memberanikan diri menemui dr Suprapti yang merawat anaknya. Ia menceritakan bahwa anaknya sudah menyerah dan tak mau lagi cuci darah.

Ia juga tidak tega melihat kondisi anaknya setiap kali menjalani cuci darah.

Saat itu pula dokter menyarankan untuk operasi transplantasi ginjal menggunakan BPJS Kesehatan. Terpenting ada orang yang mau mendonorkan ginjal.

"Saya siap donorkan ginjal saya," ujar Maimunah kepada dokter tersebut.

Dokter tidak percaya, dan kembali bertanya "Demi apa kamu (Maimunah) mau mendonorkan ginjal,"

"Demi anak aku, aku sayang sama anak aku," ujar Maimunah.

Dokter pun yakin dan meyanggupi keinginan Maimunah untuk mendonorkan ginjalnya.

Hanya saja ada satu hal yang masih menjadi pikiran Maimunah.

"Bagaimana dengan biayanya. Saya tidak punya uang," tanyanya kepada dokter

Maimunah hanya mendapat jawaban singkat dari sang dokter. Bahwa dirinya tak perlu memikirkan biaya.

Belakangan baru ia diberi tahu ternyata biaya operasi transplantasi ginjal anaknya ditanggung oleh BPJS Kesehatan dan biaya tambahannya dibantu oleh pihak rumah sakit yang saat itu sedang proses persiapan membuka pelayanan operasi transplantasi ginjal.

Ternyata donor ginjal yang akan ia lakukan tak sepenuhnya diterima Rezkiana. Ia tak mau membuat ibunya ikut-ikutan mengalami kesusahan. Cukuplah dia yang menderita jangan ibunya.

"Perhitungan saya lebih baik satu orang yang sakit jangan dua-duanya," terang Rezkiana.

Setelah diyakinkan oleh dokter bahwa pendonor akan tetap hidup seperti biasa barulah Rezkiana mau menerima ginjal ibunya.

Editor: edwardi
Sumber: Tribun Sumsel
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help