Ini Dia Rahasia di Balik Kode Warna Gender, Pink dan Blue

“Saya ingin mengetahui sampai sejauh mana anak-anak dan orangtua mereka, secara sadar ataupun tidak, dipengaruhi oleh iklan dan budaya populer,”

Ini Dia Rahasia di Balik Kode Warna Gender, Pink dan Blue
net
Ilustrasi. 

BANGKAPOS.COM -- Terpesona oleh obsesi awal putrinya dengan warna jambon, seorang fotografer mengeksplorasi dua warna yang sangat berpengaruh itu.

Baca: Ternyata Inilah 6 Peran Kapten Pincang Ramlan Butarbutar Saat Menggarong di Pulomas

Ketika berusia lima tahun, putri Jeongmee Yoon hanya ingin menggunakan warna jambon. Yoon, seorang fotografer asal Korea Selatan, mengetahui bahwa preferensi anaknya itu juga dimiliki oleh banyak gadis kecil lainnya.

Baca: Tega, Suami Ini Jual Isteri Dipaksa Layani 2.700 Pria Hidung Belang

Tetapi Yoon begitu penasaran dengan kecenderungaan yang tampaknya universal itu sehingga dia memulai “Pink and Blue Project,” rangkaian fotografi tanpa henti dari dua warna yang paling sering diasosiasikan dengan anak perempuan dan anak laki-laki di seluruh dunia.

Baca: Markas Besar Diresmikan, Laskar Aswaja Siap Perangi Radikalisme

“Saya ingin mengetahui sampai sejauh mana anak-anak dan orangtua mereka, secara sadar ataupun tidak, dipengaruhi oleh iklan dan budaya populer,” kata Yoon. “Biru telah menjadi simbol kekuatan dan maskulinitas, sementara jambon melambangkan hal-hal yang manis dan femininitas.”

Baca: Teriak Minta Tolong, Bocah Ini Pun Selamat dari Gigitan Ular Paling Berbisa di Dunia

Menurut Jo Paoletti profesor studi Amerika dari Universitas Maryland, menghubungkan gender dengan warna-warna ini adalah hal yang relatif baru. Pada abad ke-19, warna-warna pastel dianggap bergaya di sebagian besar Eropa dan Amerika Serikat, dan digunakan “untuk mencerahkan warna kulit, bukan untuk menyatakan gender,” katanya.

Baca: Gadis Ini Dipaksa Buka Baju, Tersangka Meneranginya Pakai Senter, Endingnya Pun Begini

Ia mengungkapkan pada awal abad ke-20, perbedaan gender dalam warna pakaian mulai muncul—dan pada 1940 warna jambon serta biru mulai mengakar kuat sebagai warna yang terkait gender dan terus begitu sampai hari ini.

Amerika Serikat telah memberikan kontribusi cukup signifikan terhadap fenomena “jambon untuk anak perempuan dan biru untuk anak laki-laki,” ungkap Paoletti.

Itu dipicu oleh palet warna yang lazim dari boneka Barbie, film-film pahlawan super, dan bahan pokok lain dari masa kanak-kanak warga Amerika, katanya. Dan itu memiliki semacam kekuatan budaya ciri khas yang serupa dengan "ide-ide tradisional tentang jenis kelamin, gender, dan seksualitas."

Sejak Yoon memulai "Pink dan Biru Project"-nya pada 2005, ia telah mengamati bahwa selera warna anak-anak sering berubah dengan bertambahnya usia mereka, biasanya sekitar kelas tiga atau empat. Misalnya, ketika Yoon memotret Maia (kanan) pada usia delapan tahun di rumahnya di Hempstead, New York, gadis itu mulai menjauh dari warna jambon dan tertarik pada warna-warna lain, termasuk ungu.

(Catherine Zuckerman/National Geographic)

Editor: asmadi
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help