BangkaPos/
Home »

Lokal

» Bangka

Nasib Miris Nelayan Perimping, Jadi Pengangguran, Perahu Rusak, Ikan Sulit Dicari Akibat Tambang

Masalah lain yang dihadapi nelayan, yakni kondisi sarana transportasi dan alat tangkap, yang tak bisa di rawat lagi,

Nasib Miris Nelayan Perimping, Jadi Pengangguran, Perahu Rusak, Ikan Sulit Dicari Akibat Tambang
Bangkapos.com/Riyadi
Nelayan Sungai Perimping saat memperbaiki perahunya di dermaga Dusun Tirus Desa Riau Kecamatan Riausilip, beberapa waktu lalu. 

Laporan Wartawan Bangka Pos Riyadi

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Nelayan Sungai Perimping saat ini tidak hanya dihadapkan dengan persoalan maraknya tambang inkonvensional (TI) apung rajuk ilegal yang beroperasi di DAS Perimping, yang mengakibatkan hilangnya populasi tangkapan nelayan seperti udang dan kepiting bakau (remanguk).

Tapi nelayan juga dihadapkan pada masalah akan atau sudah terjadinya nelayan yang kini sebagai pengangguran, karena tidak bisa turun lagi ke sungai, akibat hilangnya potensi perikanan untuk tangkapan nelayan.

Baca: Bambang: Mangrove DAS Perimping Jadi Hamparan Pasir, Kapolda Harusnya Juga Bertindak

Masalah lain yang dihadapi nelayan, yakni kondisi sarana transportasi dan alat tangkap, yang tak bisa di rawat lagi, karena tidak adanya biaya perawatan, sehingga perahu dan alat tangkap nelayan dibiarkan buruk begitu saja.

"Kami mau turun percuma lah, udang dan kepiting sudah hilang, ikan ada tapi sudah susah dicari, kalau sudah begini kita nganggur, perahu dan jaring juga kena dampaknya karena kita nggak pernah turun, ya perahu ikut nganggur, kalau nganggur terus nggak di rawat, kan rusak," kisah nelayan Sungai Perimping Pram kepada bangkapos.com Rabu (4/1/2017).

Baca: Bambang: Surat KKP Menghentikan Pertambangan Laut Babel Melanggar Hak Pemegang IUP

"Tapi kalau mau merawat perahu nganggur biayanya dari mana, selama ini biaya hidup kami, ekonomi kami hingga perawatan perahu ya tergantung dari hasil tangkapan, jadi perahu kami ya terpaksa buruk sendiri," ujarnya.

Pram salah satu diantara nelayan, yang kini lebih banyak menganggur alias tidak pernah turun ke sungai lagi untuk menjaring, karena TI apung telah mengalahkan nelayan.

Baca: Seorang Pekerja TI Nyaris Diamuk Massa Diduga Perkosa Pelajar

Sebelumnya, Wakil Ketua HNSI Kecamatan Riausilip Ismail mengatakan, perahu-perahu nelayan banyak yang mulai buruk, akibat nelayannya jarang turun ke sungaim

"Ya bagaimana mau turun ke sungai, biaya untuk minyak nggak ada, kalau toh turun belum tentu dapat tangkapan, karena kondisi sungai sangat tidak memungkinkan lagi, akibat TI apung," ungkap Ismail.

Penulis: riyadi
Editor: Hendra
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help