BangkaPos/

Ekspor Lada Babel Alami Penurunan, Harga Lada 2017 Diprediksi Capai 150 Ribu/kilo

Penurunan jumlah ekspor lada ini diakibatkan menurunnya produktifitas panen lada akibat cuaca buruk yang melanda wilayah Babel sejak tahun 2015

Ekspor Lada Babel Alami Penurunan, Harga Lada 2017 Diprediksi Capai 150 Ribu/kilo
Bangka Pos / Resha
Warga sedang Mencuci Lada di sungai jembatan 12 beberapa waktu lalu 

Laporan wartawan Bangka Pos, Iwan Satriawan

BANGKAPOS.COM,BANGKA--Kendati animo masyarakat Babel untuk kembali berkebun Lada semakin tinggi, jumlah ekspor lada pada tahun 2016 malah mengalami penurunan dibandingkan tahun 2015.

Penurunan jumlah ekspor lada ini diakibatkan menurunnya produktifitas panen lada akibat cuaca buruk yang melanda wilayah Babel sejak tahun 2015.

Berdasarkan data yang diperoleh Bangkapos.com dari pihak Asosiasi Eksportir Lada Indonesia (AELI), ekspor lada pada tahun ‎2015 mencapai 7500 ton, sementara pada tahun 2016 ekspor lada sampai akhir tahun hanya 6500 ton.

panen lada
Warga memanen lada dikebunnya, foto diambil Kamis (4/8/2016)

‎"Ini memang sudah kita diprediksi sebelumnya akibat pengaruh cuaca buruk. ‎Untuk tahun 2017 ini sepertinya belum ada peningkatan ekspor. Pohonnya memang bertambah tapi belum berbuah dan yang sudah berbuah mengalami cuaca buruk jadi produksinya tidak maksimal," ungkap ketua AELI Babel Zainal Arifin baru-baru ini.

Ia menjelaskan saat ini ada lima eksportir lada anggota AELI yang aktif melakukan ekspor lada ke luar negeri dan lada yang diekspor didomininasi lada yang dihasilkan dari Pulau Bangka, sementara dari Pulau Belitung hanya sekitar 2000 ton saja karena biasanya dari Belitung langsung ke Jakarta.

‎‎"Untuk permintaan lada dunia sendiri tidak berobah, lokal saja cukup tinggi. Tapi untuk kebutuhan lokal dimasuki daerah lain seperti Sulawesi, Kalimantan dan Jawa. Sementara kita khusus pangsa ekspor," jelas Zainal.

Kebun Lada
Pemilik kebun sahang atau lada di Desa Kemuja Kabupaten Bangka memanen hasil tanamnya. Pada bulan-bulan tertentu seperti Juli sampai Agustus warga mulai menikmati hasilnya, Selasa (28/7/2015)

Ditanya mengenai persaingan ekspor lada dengan Vietnam dan Malaysia, Zainal mengatakan hal tersebut tetap ada, akan tetapi produk lada Babel sudah punya keunggulan tersendiri yang diakui dunia yaitu brand, taste dan kualitas dengan nama muntok white paper.

"Malah dari Vietnam rencananya Februari ini akan berkunjung belajar ke Bangka," ungkapnya.

Pada kesempatan tersebut Zainal mengatakan pada awal tahun 2017 ini harga lada di tingkat petani 124 ribu perkilo. Pada tahun 2016 lalu harga lada tertinggi pernah mencapai 180 ribu perkilo.

Halaman
12
Penulis: Iwan Satriawan
Editor: Iwan Satriawan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help