BangkaPos/

Melongok Kisah Mistis Bahu Laweyan, Wanita 'Pemangsa' Pasangan Hidupnya Sendiri

Pernah dengar seorang wanita yang setiap kali menikah selalu ditinggal mati pasangannya? Benarkah ia ditakdirkan sial terus?

Melongok Kisah Mistis Bahu Laweyan, Wanita 'Pemangsa' Pasangan Hidupnya Sendiri
iST
Ilustrasi 

"Biasanya setelah perkawinan yang ketiga, betapapun cantik atau gantengnya, dia akan kesulitan mencari pasangan. Memangnya siapa yang berani menanggung risiko kematian?" ujar Pak Supri. Tapi menurutnya, bila sampai tiga kali menjalani perkawinan dengan selalu mengorbankan pasangannya, umumnya janda atau duda dari masyarakat Jawa akan tahu diri. dan takut kawin lagi.

Sedangkan budayawan Jawa H. Karkono Kamajaya PK (81) mengaku, meski.tidak tahu ciri-ciri fisik orang bahu laweyan, tapi percaya orang semacam itu memang ada. Ketua Javanologi Panunggal Yogyakarta ini sedari kecil telah mengetahui istilah manusia bahu laweyan, bahkan pernah kenal akrab salah seorang di antaranya.

"Yang saya tahu, bahu laweyan hanya untuk perempuan. Suami wanita ini tidak selalu meninggal, tapi ada saja malapetaka atau kesialan menimpa hidupnya. Entah itu kecelakaan, sakit-sakitan, atau yang lainnya. Pokoknya, sial terus," ujarnya merinci garis nasib para bahu laweyan.

Kemalanggn yang menyertai manusia bahu laweyan, menurut Dra. Astuti Hendrato, mantan dosen sastra Jawa UI, lebih disebabkan oleh nasib atau bawaan. "Kalau menurut orang Jawa, ndilalah atau kebetulan saja orang tersebut ditimpa nasib buruk. Bukan karena keturunan."

Pendapat tersebut senada dengan yang diungkapkan oleh Karkono bahwa bahu laweyan itu merupakan bawaan sejak lahir. Sementara penjelasan yang melandasinya, "Sulit kalau harus" dinalarkan, karena ini memang menyangkut kepercayaan orang Jawa," tuturnya.

Meskipun berpandangan sama bahwa bahu laweyan merupakan bawaan bukan keturunan, pemahaman yang diajukan Pak Supri lebih mudah dimengerti.

Menurutnya, "Tubuh manusia bahu laweyan dipinjam sebagai wadah oleh makhluk halus jahat yang ingin menguasainya. Karenanya, kalau ada yang mengawininya, makhluk halus ini tak rela dan membunuhnya."

Konon perbuatan keji makhluk itu akan berhenti setelah memangsa tujuh kali nyawa pasangan hidup manusia bahu laweyan. Meski kurang terlalu yakin, Supri menduga 7 korban atau nyawa itu berkaitan dengan tali pengikat mayat manusia yang berjumlah tujuh. Jadi pada perkawinan yang kedelapan kalinya, pasangan hidup itu sebenarnya akan selamat.

"Tapi jarang, bahkan bisa dibilang tidak ada orang yang berani mencoba menikahinya. Biasanya kalau ada janda yang sudah tiga kali ditinggal mati pasangan hidupnya, orang lain pun tidak berani mencoba mengawininya lagi," ujar bapak beranak tiga itu tertawa.

Seperti layaknya makhluk halus, penghuni wadah itu pada tengah malam saat pasangan bahu laweyan tertidur lelap akan keluar dari tubuh pemiliknya dalam ujud asap kecil.

Halaman
1234
Editor: Iwan Satriawan
Sumber: Intisari
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help