Brimob-Gapabel Benahi Rumah Tetua Suku Sawang di Belitung

Puluhan orang dari Detasemen B Pelopor Brimob Polda Babel dan Gapabel, Sabtu (14/1/2017) berada di rumah Tetua Suku Sawang.

Brimob-Gapabel Benahi Rumah Tetua Suku Sawang di Belitung
posbelitung/disa aryandi
Kepala Detasemen B Pelopor Brimob Polda Babel, AKBP Wahyu Dharmalaksana, Sabtu (14/1/2017) ketika memberikan bantuan sembako kepada Kek Awang. 

Laporan Wartawan Pos Belitung, Disa Aryandi

BANGKAPOS.COM, BELITUNG -- Puluhan orang dari Detasemen B Pelopor Brimob Polda Bangka Belitung (Babel), dan Gabungan Pecinta Alam Belitong (Gapabel), Sabtu (14/1/2017) berada di rumah Tetua Suku Sawang.

Mereka berada di rumah Kek Awang, terletak di RT 07/01 Desa Juru Seberang, Kecamatan Tanjungpandan, Kabupaten Belitung itu, untuk membenahi rumah tetua suku sawang tersebut.

Pasalnya, rumah pria paru baya yang telah berusia 80 tahun tersebut, sejak dua tahun belakang hanya tidur dibalik sebuah gubuk berukuran dua meter kali dua meter.

Brimob dan Gapabel, melakukan beda rumah Kek Awang, Sabtu (14/1/2017).
Brimob dan Gapabel, melakukan beda rumah Kek Awang, Sabtu (14/1/2017).

"Iya cuma membEnahi saja, biar kek awang bisa menempati rumah yang lebih layak. Kami bersama-sama melakukan kerjaan ini, biar ringan. Ya istilahnya beda rumah lah," kata Kepala Detasemen B Pelopor Brimob Polda Babel, AKBP Wahyu Dharmalaksana kepada Posbelitung.com, Sabtu (14/1/2017).

Program yang dilakukan oleh Brimob dan Gapabel itu, merupakan bagian dari bhakti sosial. Sehingga melalui bhakti sosial itu, masyarakat kedepan tidak menganggap Brimob untuk ditakuti.

"Tapi kami ingin lebih mendekatkan diri kepada masyarakat. Dengan cara ini kami mendekatkan diri, dan bisa membantu masyarakat, itu memang sudah menjadi tanggung jawab kami," ujarnya.

Selain melakukan beda rumah Kek Awang, Brimob juga memberikan paket sembako kepada tetua Suku Sawang itu.

Diketahui, kondisi rumah Kek Awang, hanya memiliki ukuran sekitar dua meter kali dua meter, membentuk sebuah gubuk reyok berada dibalik rumah warga. Bagian atap gubuk itu, hanya dilengkapi dengan terpal berwarna biru, disisi dalam dilengkapi dengan bekas bener berwarna putih.

Dinding bagian luar, rumah yang hanya menggunakan kayu berukuran sekitar dua jari orang dewasa itu dilapisi dengan karung, maupun terpal bekas. Bagian pintu gubuk itu, hanya ditutup dengan terpel bekas dengan seuntai tali sebagai pengunci.

Sedangkan lantai dari gubuk itu, hanya disusun kayu bulat dengan bagian atas dilapisi kain atau baju bekas. Ruang gerak gubuk yang memiliki tinggi sekitar dua meter itu, sangat terbatas. Namun itulah kondisi sebuah rumah sebagai tempat tinggal tetua suku sawang. (*).

Penulis: Disa Aryandi
Editor: asmadi
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved