Catat, Ini Gunanya Petani Cabai di Babel Kecipratan Rp 3,5 Miliar

Dinas Pertanian dan Peternakan Bangka Belitung bersiap menggelontorkan dana sekitar Rp 3,5 miliar untuk pengembangan kawasan perkebunan cabai.

Catat, Ini Gunanya Petani Cabai di Babel Kecipratan Rp 3,5 Miliar
bangka.tribunnews.com

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Dinas Pertanian dan Peternakan Bangka Belitung bersiap menggelontorkan dana sekitar Rp 3,5 miliar untuk pengembangan kawasan perkebunan cabai.

Dana itu bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Kepala Bidang TPH Dinas Petanian dan Peternakan Babel, Heri mengatakan dana sekitar Rp 3,5 miliar itu terbagi menjadi Rp 876.500.000 bersumber APBD dan Rp 2,7 miliar dari APBN.

Anggaran ini akan diberikan kepada kelompok tani yang tersebar di seluruh kabupaten/kota dalam bentuk paket lengkap yang terdiri dari benih, pupuk, dan pestisida.

“Untuk APBD kan termasuk dalam kategori hibah jadi prosedurnya kelompok gabungan harus berbadan hukum yang disahkan oleh notaris dan Kemenhumkam sesuai UU 23 Tahun 2014. Sementara bantuan dari APBN tidak memerlukan itu,” kata Heri kepada bangkapos.com pada akhir pekan lalu.

Baca: Siswi SMP Digerebek Berduaan dengan Pacarnya 11 Hari dalam Kamar Kos

Heri menyebut rencananya anggaran itu mulai digelontorkan pada semester I tahun ini. Khusus untuk dana APBN, selain penerimanya sudah ditetapkan, bantuan ini menyediakan paket yang lebih lengkap, bukan hanya sekadar benih, pupuk dan pestisida saja.

Petani penerima bantuan APBN juga akan mendapat bantuan pompa air dan Cultivator (alat pengolah lahan).
“Untuk penerima APBN jenis cabai pun sudah ditentukan yaitu cabai merah. Sedangkan dana APBN masih fleksibel menurut keinginan petani bisa untuk bibit cabai merah atau cabe rawit,” ujarnya.

Lebih lanjut Heri mengatakan pemberian bantuan kepada petani diharapkan bisa melepas ketergantungan Babel dari pasokan luar. Menurutnya, di lokasi sentra cabai, yang produksinya terpusat di Pulau Jawa, harga cabai tidak semahal seperti di Babel.

Baca: Ini Pengakuan Wanita Cantik yang Naik Motor Tanpa Busana di Bandara Pontianak

Dia menegaskan tingginya harga cabai lebih disebabkan disparitas (jarak) antara sentra produksi cabai untuk dibawa ke Babel.

“Pengembangan kawasan cabai selain untuk mengurangi ketergantungan pasokan cabai di Babel juga dapat bermanfaat untuk memutus beban tata niaga, pasalnya biaya transportasi turut mempengaruhi mahalnya harga cabai,” kata Heri.

Halaman
12
Editor: Alza Munzi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved