Inilah Kisah Palang Hitam, Pemburu Mayat di Belantara Ibukota Sejak Zaman Belanda

Palang Hitam ini sudah ada dari zaman Belanda dalam bentuk sebuah yayasan yang dikelola pihak swasta.

Inilah Kisah Palang Hitam, Pemburu Mayat di Belantara Ibukota Sejak Zaman Belanda
Kompas.com
Sherman Dwi Pakuan, menkafani jenazah tanpa identitas dan tanpa keluarga di Panti Sosial Kedoya, Jakarta Barat, untuk selanjutnya dimakamkan di TPU Tegal Alur, Kalideres, Senin (29/8/2016). 

BANGKAPOS.COM--Hampir setiap hari, iring-iringan mobil jenazah yang disertai konvoi keluarga dan tetangga sekitar biasa terlihat di setiap sudut kota.

Namun, apabila jenazah tersebut adalah jenazah korban kecelakaan, pembunuhan, atau mayat yang tidak diketahui identitasnya, siapakah yang bertugas mengangkutnya?

Di Ibu Kota, pekerjaan ini dilakukan oleh tim yang dikenal dengan sebutan "Palang Hitam".

Baca: Kisah Ketika Sebuah Doa Mengetarkan Langit dan Mengeringkan Samudera

Palang Hitam ini sudah ada dari zaman Belanda dalam bentuk sebuah yayasan yang dikelola pihak swasta.

Namun, pada masa pemerintahan Gubernur Ali Sadikin, yayasan tersebut diambil alih oleh Pemerintah Provinsi dan sekarang berada di bawah naungan Dinas Pertamanan dan Pemakaman dengan kantor di Jalan Aipda KS Tubun, Petamburan.

Baca: Melongok Kekayaan Donald Trump, Milyuner Nyentrik Presiden Baru Amerika Serikat

Status tim Palang Hitam tersebut saat ini adalah pegawai harian lepas (PHL).

Nama Palang Hitam diambil dari pita hitam yang biasa disematkan kepada jenazah.

Kalau Palang Merah tugasnya mengurus orang sakit, Palang Hitam adalah yang mengurus jenazah.

48 orang yang siap memburu mayat di Ibu Kota

Saat ini, anggota Palang Hitam berjumlah 48 orang. Dibagi dalam jadwal tugas dan piket, tugas mereka bergantian untuk selalu siap menjemput jenazah.

Halaman
1234
Editor: Iwan Satriawan
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved