BangkaPos/

Sup Sirip Hiu Menu Eksklusif Sejak Zaman Dinasti Zhou

Pada masa-masa kerajaan China, sup sirip ikan hiu adalah salah satu hasil olahan yang kerap disajikan.

Sup Sirip Hiu Menu Eksklusif Sejak Zaman Dinasti Zhou
KOMPAS/WAWAN H PRABOWO
Sup Hisit 

BANGKAPOS.COM - Sup sirip ikan hiu biasa dikenal sebagai hidangan untuk merayakan Imlek.

Sup dengan kuah kaldu yang juga biasa dikenal dengan sebut "Sup Hisit" itu disajikan juga bersama asparagus hingga bahkan udang.

Baca: Menunya Biasa tapi Kuah Cabai Bumbu Rempah Mi Ayam Boomerang Ini Pasti Beda

Mi Ayam Boomerang
Mi Ayam Boomerang

Ternyata, sup sirip ikan hiu punya cerita yang berasal dari negeri asalnya sejak ratusan tahun yang lalu. Tepatnya, sup sirip ikan hiu berawal dari dinasti Zhou.

"Sejarah di Tiongkok banyak kerajaan-kerajaan. Sebenarnya sejarah ini ditarik balik ke dinasti Zhou, Song , dan Ming," kata Kepala Studi dan Penelitian Budaya Asosiasi Peranakan Tionghoa Indonesia, Aji "Chen" Bromokusumo dalam acara Diskusi Terbuka "Menghilangkan Hiu dari Menu" di Jakarta, Rabu (25/1/2017).

Pada masa-masa kerajaan China, sup sirip ikan hiu adalah salah satu hasil olahan yang kerap disajikan. Pada masa itu, orang kaya di China ingin menunjukkan gengsi dari jabatan yang diembannya.

"Secara budaya, tak ada arti khusus (dari sajian sup sirip ikan hiu). Secara kesehatan tak ada manfaat khusus. Karena bagi yang sanggup beli dan makan kala itu hanya kaisar. Ini sudah ada ratusan tahun yang lalu," jelas Chen kepada KompasTravel.

Baca: Nasi Berenang, Kuliner Unik Sudah 15 Tahun Terus Diburu Pelanggan

Warung Sugiwaras di Polewali Mandar, Sulawesi Barat, yang setia menyajikan menu unik yakni Nasi Berenang sejak 15 tahun lalu hingga kini makin laris dan makin populer di mata pelanggannya.
Warung Sugiwaras di Polewali Mandar, Sulawesi Barat, yang setia menyajikan menu unik yakni Nasi Berenang sejak 15 tahun lalu hingga kini makin laris dan makin populer di mata pelanggannya.

Ia mengatakan dahulu ada anggapan pada sajian makanan mencerminkan status sosial. Sirip ikan hiu sendiri adalah barang yang langka pada masa itu.

"Semakin langka ikannya, semakin menunjukkan status sosialnya," tambahnya.

Imlek sendiri erat kaitannya dengan nilai-nilai syukur atas kekayaan, panjang umur, dan kesuksesan. Hasil yang didapatkan selama tahun disyukuri melalui bentuk makanan dari tiga unsur yakni air, udara, dan darat.

"Ucapan syukur dalam Imlek ada tiga. Mewakili darat, laut, dan udara. Darat itu ada menu babi, laut itu ikan, dan udara itu ayam dan itik," tambah Chen.

Baca: Maknyusnya Menu Sekar Seafood Bikin Kecanduan

Kepiting lada hitam, salah satu menu favorit di Sekar Seafood, Jalan Soekarno-Hatta, No. 618, Manjahlega dan Sekar Seafood, Jalan Suniaraja No. 41, Kota Bandung, Jawa Barat.
Kepiting lada hitam, salah satu menu favorit di Sekar Seafood, Jalan Soekarno-Hatta, No. 618, Manjahlega dan Sekar Seafood, Jalan Suniaraja No. 41, Kota Bandung, Jawa Barat.

Hidangan dengan bahan utama dari ikan hiu punya beberapa akibat yang membahayakan tubuh manusia. Bahaya tersebut berasal dari kandungan merkuri yang ada pada ikan hiu.

"Kalau dari segi kesehatan, itu sudah banyak rilis dari IPB (Institut Pertanian Bogor) dan juga BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan). Memang merkuri ini dampaknya gak satu dua tahun tapi akan pasti kelihatan," jelas Koordinator Konservasi Ikan Hiu dari Lembaga World Fund Indonesia, Dwi Ariyoga Gautama kepada KompasTravel seusai acara Diskusi Terbuka "Menghilangkan Hiu dari Menu" di Jakarta, Rabu (25/1/2017).

Yoga mengatakan merkuri bisa menyebabkan kelainan saraf bagi pengonsumsi ikan hiu. Pada ibu hamil, lanjutnya, bayi kemungkinan bisa mengalami kelainan saat lahir.

Baca: Uniknya Mi di Kedai Ini Bahannya dari Buah dan Sayuran Berwarna-warni


Mi warna pink dari buah naga. (Tribun Jateng/Irzal Adiakurnia)
Mi ayam warna pink dari buah naga. (Tribun Jateng/Irzal Adiakurnia)
Editor: fitriadi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help