Ngeri, Aksi Klitih Bisa-bisa Bikin Jogja Berhenti Nyaman, Begini Asal Mulanya

Aksi penganiayaan yang dilakukan sekelompok pelajar dan anak muda di Yogyakarta yang dikenal dengan klitih mulai meresahkan masyarakat.

Ngeri, Aksi Klitih Bisa-bisa Bikin Jogja Berhenti Nyaman, Begini Asal Mulanya
KOMPAS.COM/FIRA ABDURACHMAN
Gudeg Yu Djum di Jalan Wijilan, Yogyakarta yang buka sejak 1950-an. 

BANGKAPOS.COM - Kasus tewasnya Ilham Bayu Fajar (17) pada Minggu (12/3/2017) menambah panjang daftar korban kasus penganiayaan atau yang lebih dikenal klitih di Yogyakarta.

Tribun Jogja mencatat, sepanjang 2016 kemarin Tribun Jogja ada enam aksi klitih yang menimbulkan korban, di antaranya meninggal.

Adnan Hafid Pamungkas - Tewas di wilayah Salakan, Trihanggo, Gamping, Sleman.

Iqbal Dinaka Rofiqy - Tewas Dianiaya di Makam Gajah Miliran Umbulharjo, Jogja, akhir Agustus.

Enam Pelajar SMK N 1 Sleman diserang pelajar lain pada bulan September di Jalan Pakem-Cangkringan.

Bulan Mei, Krisnawan jadi korban pembacokan 2 pelajar sekolah lain di daerah Pugeran, Maguwoharjo, Depok, Sleman.

Rombongan kelulusan sekolah SMK melakukan aksi pembacokan terhadap seorang warga Bantul bernama Ariyanto di Jalan Sorobayan, Glagahan, Pandak.

Awal tahun 2016, seorang mahasiswa swasta mengalami pembacokan di jalan Kabupaten, Mayangan, Trihanggo, Gamping, Sleman.

Atas maraknya aksi klitih itu, jargon Jogja Berhati Nyaman pun diplesetkan menjadi Jogja Berhenti Nyaman. Yogyakarta yang dikenal sebagai kota pelajar itu seakan menjadi malapetaka bagi para pelajarnya.

Pelaku klitih pun bukan lagi anggota geng dari sekolah tertentu. Dalam kasus Ilham Bayu Fajar, pengeroyoknya adalah  geng Burjo Wetan Sekolah (BWS).

Halaman
1234
Editor: Alza Munzi
Sumber: Intisari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved