Jembatan Hutan Pelawan Namang Rusak, Pengunjung Diminta Lebih Berhati-hati

Wisata hutan pelawan di desa Namang, Bangka Tengah (Bateng) semakin kurang terawat.

Jembatan Hutan Pelawan Namang Rusak, Pengunjung Diminta Lebih Berhati-hati
bangkapos.com/Riski Yuliandri
Jembatan yang menjadi icon hutan pelawan terlihat rusak dan beberapa bagian sudah patah dan membahayakan pengunjung. 

Laporan wartawan bangka pos, Riski Yuliandri

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Wisata hutan pelawan di desa Namang, Bangka Tengah (Bateng) semakin kurang terawat. Bahkan jembatan merah yang menjadi icon hutan tersebut terdapat beberapa bagian rusak akibat termakan usia.

Beberapa bagian jembatan yang terbuat dari kayu tersebut terlihat sudah mengalami pelapukan dan rapuh, bahkan bagian penahan dipinggirnya sudah ada yang patah.

Pengunjung asal Jakarta yang berkunjung, Susi Iskandar menyayangkan fasilitas yang ada di hutan tersebut tidak dijaga dan dirawat dengan baik.

"Sebenarnya keberadaan wisata hutan ini sangat bagus dan harus dilestarikan, ini aset daerah tapi fasilitasnya juga harus dirawat dan dibangun dengan baik," ungkapnya, Minggu (19/3/2017).

Sama halnya dengan Defi, ia mengaku sedikit takut ketika menginjakan kakinya diatas jembatan tersebut.

"Kayu-kayunya banyak yang rapuh jadi emang agak takut dan sedikit hati-hati, takut salah nginjak kayu malah jatuh ke sungai," tambahnya.

Sementara itu, pengurus hutan pelawan, Zaiwan mengatakan selama ini pihaknya sudah berusaha untuk merawat fasilitas yang ada namun terkendala dengan biaya.

"Kita sudah melakukan perawatan, beberapa bagian kita ganti dengan kayu baru tapi ini memakan biaya. Selama ini kita menggunakan dana pribadi semua," ungkapnya.

Ia berharap pemerintah dapat membantu dengan mengirimkan pegawai yang khusus untuk mengurus dan melaporkan perkembangan hutan tersebut ke pemerintah.

Zaiwan juga mengatakan beberapa bangunan yang dibangun oleh pemkab bateng tidak dapat difungsikan secara maksimal.

"Akhir tahun lalu (2016) pemerintah bangun beberapa bangunan semacam camping ground dan toilet tapi tidak dilengkapi dengan pembangkit listrik jadi air toilet itu tidak ada," terangnya.

Bahkan tak jarang petugas jaga hutan tersebut membersihkan kotoran pengunjung di toilet yang dibangun pemerintah tersebut.

"Kami juga belum dapat konfirmasi dari mereka (pemkab bateng) terkait pembangunan ini, nanti sistemnya bagaimana juga kita tidak tahu. Yang jelas kita ingin pemerintah peduli dan sama-sama menjaga aset ini, jangan semuanya dilimpahkan ke kami karena untuk merawat dan menjaganya butuh dana yang besar," jelas Zaiwan.

Penulis: Riski Yulianri
Editor: edwardi
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved