Kisah Cinta Terakhir Bung Karno di Pelabuhan Hati Wanita Cantik Samarinda (1)

Heldy Djafar, perempuan cantik asal Tenggarong, Kalimantan Timur, terpaksa mengakhiri perkawinannya dengan Bung Karno karena tak bisa lagi bertemu

Kisah Cinta Terakhir Bung Karno di Pelabuhan Hati Wanita Cantik Samarinda (1)
net
Presiden I Indonesia, Ir Soekarno 

BANGKAPOS.COM - Suatu pagi yang panas di tahun 1957, di sebuah rumah besar di Jalan Mangkurawang 9, Tenggarong, Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur, Heldy, gadis kecil berusia 10 tahun, menangis meraung-raung gara-gara tak diajak kakak-kakak nya ke Samarinda.

Hari itu, Presiden Sukarno berpidato di alun-alun Samarinda.

Sang kakak tak mengizinkan Heldy pergi karena selain perjalanan ke Samarinda hanya bisa dengan kapal menyusuri S. Mahakam selama dua jam, suasana akan sangat ramai setiap kali Presiden Sukarno berpidato.

Maka Heldy hanya bisa mendengarkan pidato Bung Karno di radio. Bagi Heldy, yang penting bukanlah isi pidato, melainkan kebesaran dan ketokohan sosok yang fotonya banyak terpasang di dinding rumah orangtuanya itu. 

Diramal akan mendapat orang besar 

Lahir sebagai bungsu dari sembilan besaudara anak-anak pasangan H. Djafar yang seorang pemborong terpandang di Tenggarong dan Hj. Hamiah, pada 10 Agustus 1947, Heldy merasa selalu mendapat curahan perhatian keluarga. 

Kakak-kakaknya adalah Zubaedah (perempuan), Erham (laki-laki), Milot (perempuan), Ruslan (laki-laki, sering dipanggil Yus). Badrun (laki-laki), Johan (laki-laki), Abu (laki-laki), dan Erni (perempuan). 

Ketika mengandung Heldy, Hj. Hamiah sempat melihat bulan purnama bulat utuh. Lalu teman ayahnya, seorang pria Tionghoa, mengatakan, “Nanti kalau bayimu lahir, harus dijaga ya, sampai dia beranjak dewasa.”

Saat Heldy duduk di bangku SMP, seorang tante (dalam bahasa Kalimantan adalah “mbok”), Mbok Nong, yang dianggap pandai meramal, mengatakan kepada Ibu Heldy, “Wah, anakmu ini kelak jika dewasa akan mendapatkan orang besar. Jadi tolong dijaga baik-baik ya.”

Si bungsu yang cantik dan berkulit putih itu selalu dilindungi dan dimanjakan. Ketika remaja, Heldy juga pandai mengaji hingga memenangi lomba baca Al Quran. Ayahnya paling senang merasakan kakinya dipijat si bungsu sambil melafazkan ayat-ayat Al Quran, sampai terlelap. 

Halaman
1234
Editor: Alza Munzi
Sumber: Intisari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved