Kisah Perburuan Kulit Ular Sebelum Akhirnya Akbar Ditelan Piton Raksasa Bulat-bulat

Kisah Akbar, warga Mamuju, Sulawesi Barat, yang tewas setelah tubuhnya tertelan ular piton raksasa menggemparkan dunia.

Kisah Perburuan Kulit Ular Sebelum Akhirnya Akbar Ditelan Piton Raksasa Bulat-bulat
SPL via Kompas.com
Piton Burma 

“Hutan banyak dibuka di zamannya Pak Kolonel Atik (Soetedja, 1979-1984), lalu Pak Musa Karim (1984-1989), sampai masa pemerintahan bapak mertuanya Abraham Samad, ketua KPK (Brigjen (Purn) Haji Djuritno, 1989–1994),” kenang Ismail.

Bahkan, tambah Ismail, sejak dekade 1980-an, para pekerja transmigran di Mamuju, sering mendatangi pedagang kulit samakan ular, di Kampung Bebanga, Kecamatan Kalukku, sekitar 50-an km dari Mamuju.

“Disana dulu anak pedagang yang kita kenal dengan nama Ance’ Ular, atau Ance’ Bebanga’. Ance Ular ini yang beli kulit ular sanca dari pekerja lahan transmigran, atau warga. Lalu dibawa ke Makassar,” ujarnya.

Ance Ular bukanlah pawang atau pemburu ular. Dia adalah warga Tionghoa keturunan, yang jadi pedagang pengumpul kulit samakan ular.

Lembaran kulit ular yang telah kering, ditimbang, lalu dipacking lalu dibawa ke juragan besar di Ujungpandang.

“Kulit ular ini banyak dipakai untuk bahan baku sepatu, tas, atau ikat pinggang.” ujarnya.

Hingga saat ini, di Mamuju, kulit ular masih menjadi komoditas dagang sampingan petani sawit.

Di tiap kecamatan yang berdekatan dengan hutan, ada banyak pedagang pengepul yang membeli dari petani.

Ismail mengatakan, sepanjang 30 tahun lebih dia jadi mandor proyek lahan transmigran dan jalan Trans Sulawesi hingga awal tahun 2000-an, dia nyaris tak pernah dengar kabar ada warga yang dimangsa ular.

“Kalau ular makan kambing, sapi atau babi itu biasa, tapi kalau makan manusia itu yang baru saya dengar,” jelasnya.

Halaman
123
Editor: fitriadi
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved