Bubur Kacang Hijau Bergizi, Tapi yang ini Gizinya Lebih Tinggi Lagi

Meningkatkan asupan sayur dan buah sama sekali tak ada artinya jika aspek konsumsi lain yang merusak tidak ikut digusur.

Bubur Kacang Hijau Bergizi, Tapi yang ini Gizinya Lebih Tinggi Lagi
Shutterstock
Kacang-kacangan 

Oleh: DR.dr.Tan Shot Yen,M.hum.

BANGKAPOS.COM - Belakangan ini saya lebih banyak kembali masuk ke komunitas gizi bermasalah, yang setelah diusut teryata duduk perkaranya menjadi amat sangat rumit.

Mulai dari ‘mind set’ – meminjam istilah Bu Menkes – hingga berbagai peraturan, kebijakan, dan kompetensi.

Yang perlu dibenahi bukan hanya di pihak rakyat jelata yang selama ini dianggap abai dengan masalah gizi, tapi justru orang-orang yang diandaikan ‘lebih tahu tentang gizi’ dan yang menarik lagi : mereka yang ‘punya kepentingan di area gizi’.

Gerakan Masyarakat Hidup Sehat, yang disebut “Germas” sebenarnya tidak perlu ada andai saja sejak duduk di bangku kuliah para ahli gizi, dokter dan mereka yang pandai-pandai di bidang kesehatan dididik tentang manfaat sayur dan buah yang sesungguhnya.

Tentang mengapa tubuh ini kodratnya mesti bergerak. Tentang mengapa sebelum sakit, tubuh dibekali kokpit yang jauh lebih canggih ketimbang pesawat udara buatan negri adidaya.

Sayangnya, makan sayur dan buah, olah raga dan melakukan pengecekan kesehatan rutin akhirnya tinggal sebatas jargon. Yang mesti dideklarasikan, disosialisasikan, dicanangkan hingga butuh tanda tangan para pejabat daerah, tapi rakyat tetap melongo.

Meningkatkan asupan sayur dan buah sama sekali tak ada artinya jika aspek konsumsi lain yang merusak tidak ikut digusur. Contohnya pemakaian minyak goreng setiap kali memasak.

Sebutlah asupan rafinasi mulai dari berbagai jenis roti (yang disusupi beberapa lembar sayur) dan mi instan dibubuhi beberapa helai sawi yang akhirnya nampak seperti prosesi makan yang seremonial saja.

Lah, kalau begitu, apakah untuk hidup lebih sehat harus mengorbankan industri yang selama ini memberi begitu banyak pemasukan negara dan lapangan pekerjaan?

Halaman
123
Editor: Hendra
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help